Kamis, 15 Desember 2016
Artikel Ketiga
Kurangnya
Pembinaan Terhadap Guru SMA
Berbagai
media melansir dalam setiap kesempatan dan hasil penelitian serta hasil
penilaian terhadap portoflio guru membuktikan bahwa pembinaan dan pengembangan
kompetensi guru SMA Negeri belum berjalan dengan baik.
Pemberitaan
dalam berbagai media masa dan gambaran dari hasll penelitian, yang didukung
oleh hasil penilaian portofolio guru, menunjukkan bahwa program dan kegiatan
pembinaan serta pengembangan kompetensi guru SMA khususnya, komponen kompetensi
profesional baik di tingkat kota/kabupaten maupun secara nasional, masih sangat
minim.
Media
Indonesia, 1/10/2005 mencatat bahwa guru telah gagal memenuhi indikator
pengembangan komponen pompetensi profesional sehingga terganjal kenaikan
pangkatnya. Dari pelaksanaan penilaian portofolio guru tahun 2007, penulis
sebagai salah seorang asesor wilayah Sumbar menemukan bukti yang mempriharinkan
itu.
Dari
64 dokumen yang dinilai, ternyata, sebanyak 77,4% guru tidak memenuhi indikator
sama sekali. Artinya, guru (i) jarang melakukan penelitian tindakan kelas
(PTK),t(ii) jarang menulis karya tulis lmiah (KTI) hasil penelitian, KTI
konseptual, KTI populer, dan KTI untuk seminar, (iii) jarang menulis buku dan
modul/Diktat, (iv) jarang menyiapkan alat pembelajaran, (v) jarang menghasilkan
teknologi tepat guna atau TTG/karya seni, dan (vi) jarang mengikuti
pengembangan kurikulum. Harian Kompas, 10/10/2007 memberitakan bahwa, secara
nasional, hanya sebanyak 8.000 guru yang lulus sertifikasi dari 17.000 dokumen
yang dinilai tahun 2007, sedangkan kuota nasional adalah sebanyak 20.000 (3.000
dokumen didiskualifikasi).
Penelitian
yang penulis lakukan tahun lalu yang dkenal, menurut Panduan Penelitian Dikti
Edisi VII, sebagai penelitian Hibah Bersaing dengan biaya Proyek Direktorat
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dikti Sesuai dengan Surat
Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor 230/ SP2H/DP2M/III/2007, tgl. 29 Maret
2007, membuktikan hal yang senada.
Dengan
memakai dasar kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru bahwa guru harus
profesional, tujuan utama penelitian adalah (i) mengidentifikasi dan
mengelompokkan guru SMA N Sumbar berdasarkan pemenuhan indikator komponen
kompetensi profesional guru, (ii) mengidentifikasi kemungkinan faktor penyebab
gagalnya pemenuhan indikator, dan (iii) menyusun dan merekomendasikan Model
Diklat.
Sasaran
penelitian adalah guru SMA N Sumbar yang tersebar pada 7 kota dan 12 kabupaten.
Lamanya penelitian adalah 3 tahun mulai tahun 2007. Pada tahun pertama (2007),
sasasaran penelitian yang disetujui adalah wakil 13 guru bidang studi di 16 SMA
N Kota Padang. Total sampel penelitian secara acak bertujuan (purposive
sampling) untuk tahun pertama adalah sebanyak 182 orang. Data dijaring, setelah
mendapat izin dari Diknas Provinsi Sumbar dan Diknas Kota Padang, melalui
kuesioner dan wawancara.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 114 (63%) kuesioner yang kembali, sebanyak
68.75% guru hanya mampu membuat alat pembelajaran, 17.36% yang dapat megikuti
kegiatan pengembangan kurikulum, 3.47% saja yang membuat diktat, hanya 2.8%
melakukan PTK, 1.4% menulis KTI berdasarkan laporan penelitian, KTI konseptual,
KTI populer, karya seni, dan sisanya 0.69% guru yang mampu menulis KTI untuk
seminar, menulis buku, dan menghasilkan TTG.
Rujukan/referensi : Dr. H. Welya Roza, MPd. di http://www.bung-hatta.info
Artikel Kedua
Sarjana dan
Intelektualitas
Pendidikan
merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses
ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan
sebenarnya.
Pendidikan
semestinya bertanggungjawab terhadap proses pencerdasan bangsa dan berimplikasi
kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali,
karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan
tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat
kemandirian. Sebaliknya, kadang-kadang meningginya tingkat pendidikan malah
berimplikasi pada makin meningkatnya ketergantungan kepada pihak-pihak lain.
Mencerdaskan
kehidupan bangsa sebenarnya sudah menjadi tujuan utama bangsa kita yang termaktub
dalam pembukaan UUD 45. Upaya ini ditempuh melalui pendidikan nasional. Dalam
upaya mencerdaskan bangsa pendidikan seharusnya dipandang sebagai alat
perjuangan pencerahan manusia. Sebagai alat perjuangan pencerahan manusia maka
minimal ada tiga aspek yang harus ada dalam sebuah proses pendidikan. Pertama,
Aspek iman, yang berorientasi pada proses pembentukan keyakinan manusia akan
penciptanya (spiritualitas). Kedua, Aspek kognisi, yang berorientasi pada
perubahan pola pikir (intelektualitas). Ketiga, Aspek affeksi, yang
berorientasi pada perubahan sikap mental dan perilaku (mentalitas).
Dengan
dimilikinya minimal tiga aspek dalam wacana pendidikan kita, maka seseorang
yang berpendidikan dipandang sebagai seorang yang telah mengalami peningkatan
iman, ilmu dan mental. Proses ilmu adalah garis vertikal yang mengarah ke atas,
proses moral adalah garis akar ke dalam jiwa, sementara proses mental adalah
garis horisontal. Semakin meninggi ilmu akan semakin mendalam garis moral,
serta semakin melebar garis mental. Inilah yang disebut dialektika antara ilmu,
mental dan moral pada proses kepribadian seseorang.
Meningkatnya
ilmu pengetahuan semestinya akan membuat yang bersangkutan semakin lapang
jiwanya, semakin luas bathinnya dan semakin arif kepribadiannya. Namun ternyata
tidak selalu demikian. Seseorang yang lebih tinggi kapasitas pengetahuannya
belum tentu lebih bijak dan arif perilakunya. Pada kenyataannya sering kita
temui seorang yang lebih tinggi kedudukannya yang notabene lebih mapan
kapasitas intelektualnya, lebih tinggi strata keilmuannya menjadi lebih picik
pikirannya, tidak lebih arif kebijaksanaannya dan menjadi otoriter
kekuasaannya. Kita selayaknya gelisah, untuk apa kita himpun informasi dan ilmu
sebanyak ini kalau ia malah meningkatkan akses kita ke kemungkinan dosa, karena
yang kita ketahui itu -karena sesuatu dan lain hal- tidak bisa atau terpaksa
tidak kita kerjakan.
Minimal
ada dua permasalahan mendasar pendidikan kita, yaitu Pendidikan Spiritual dan
Pengangguran Terdidik. Pendidikan spiritual permasalahannya adalah tidak
seimbangnya antara porsi pendidikan spiritual dengan pendidikan intelektual dan
mental. Akibatnya bisa kita lihat dengan semakin mengakar mendaunnya budaya
korupsi, manipulasi, monopoli, oligopoli, kolusi dan segala macam kejahatan
birokrasi dinegeri ini. Jika dikorelasikan dengan tingkat pendidikannya, pelaku
kejahatan tersebut bukanlah orang-orang yang bodoh. Dari kualitas kejahatannya
tentu pelakunya bukan orang sembarangan, pastilah orang-orang pintar, pandai
dan minimal pernah mengenyam persekolahan modern.
Kenakalan
remaja dan kenakalan orang tua yang semakin menjadi-jadi serta kejahatan fisik
maupun moral bahkan gabungan keduanya semakin merajalela, merupakan bukti
lemahnya kekuatan spiritual yang dimiliki sebagian masyarakat kita. Lemahnya
kekuatan spiritual ini menjadikan masyarakat kita mudah putus asa dan cenderung
menghalalkan segala cara demi kepentingan materi sesaat. Mereka tidak
berpandangan jauh ke depan, dimana masa depan bukan berarti hanya masa dewasa dan
masa tua tetapi menyangkut pula masa kematian dan masa pasca kematian. Dan yang
cukup memprihatinkan adalah pendidikan kita belum mampu merubah sikap perilaku
anak didik sesuai dengan target pendidikan yaitu mempertinggi budi pekerti dan
ketaqwaan kepada Allah SWT.
Pengganguran
terdidik merupakan masalah berikutnya yang cukup serius. Pengangguran ibarat
hantu yang sangat menakutkan bagi masyarakat kita. Tidak peduli bagi mereka
yang tidak mengenyam pendidikan ataupun bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan
tinggi. Masalah pengangguran selalu dikaitkan dengan masalah pendidikan. Dengan
asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin dewasa dan semakin
mampu berfikir alternatif. Sehingga sangat menjadi sorotan dan ironis jika sang
penganggur itu adalah sarjana (intelektual) dimana seharusnya ia sudah mampu
berfikir alternatif. Pendidikan yang semula diharapkan mampu mengangkat status
sosial tetapi malah menjadi beban dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tak
jarang para sarjana mengalami kegamangan dalam masyarakat.
Jika
dicermati lebih lanjut jumlah pengangguran semakin tahun semakin meningkat,
apalagi ditengah keterpurukan ekonomi seperti saat ini. Pola ini menjadi
menarik untuk dikaji, karena sarjana yang seharusnya mampu berfikir alternatif
untuk menjadikan dirinya mandiri ternyata tidak demikian adanya. Ini
menunjukkan sistem pendidikan kita belum mampu menjadi rahim yang melahirkan
lulusan berjiwa enterpreneurship. Akibatnya mereka cenderung untuk mengandalkan
lowongan pekerjaan dibandingkan dengan menciptakan lapangan kerja. Dunia
pendidikan kita terjebak pada kata “How to use”, sehingga melahirkan produk
sarjana konsumtif tidak kreatif. Lembaga-lembaga pendidikan akhirnya berfungsi
sebagai pabrik-pabrik penghasil tenaga kerja yang terampil dan terlatih.
Kondisi ini diperparah lagi dengan penerjemahan tujuan pendidikan yang
menyesatkan. Penerjemahan tujuan pendidikan secara tidak sadar selalu dibawa
pada aspek / orientasi lapangan kerja, memperoleh kursi dimana, gajinya berapa,
fasilitasnya apa, dan sebagainya. Dengan demikian ketika produk sarjana ini
dihadapkan pada realita kesempatan kerja yang sempit mereka tidak mampu untuk
berfikir alternatif memanfaatkan ilmu dan sumber daya yang ada menjadi sesuatu
yang produktif.
Simpul
dari tulisan ini bahwa memang tidak ada jaminan bahwa berkembangnya kepribadian
seseorang menjadi sarjana akan paralel dengan perkembangan kepribadian dan
tingkat moralnya. Tidak ada jaminan bahwa membengkaknya jumlah sarjana berarti
semakin terawat dan eksis pula nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Jadi
untuk apa melakukan pengembaraan intelektual dan pergulatan pemikiran menjadi
sarjana jika membuat jarak semakin jauh dengan Al-Khalik, Sang Pencipta ?.
Ironisme yang memprihatinkan.
Menjawab
ironisme tersebut diperlukan langkah sistematik dan konsisten dengan melakukan
reorientasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang akan dikembangkan harus
mampu mewadahi tiga dimensi dasar kehidupan manusia, yaitu dimensi ruhiyah
(moralitas/spiritualitas/agama), dimensi fikriyah (intelektualitas) dan dimensi
mental untuk dapat dimanage secara proporsional dan seimbang. Semoga dimasa
yang akan datang semakin banyak dihasilkan sarjana-sarjana multidimensional,
yaitu sarjana dengan kapasitas mental, moral dan intelektual.
rujukan/referensi http://masalahpendidikandinegaraku.blogspot.co.id/
Artikel Pertama
Permasalahan
pendidikan di indonesia
Saya membuat artikel ini, ingin kami semua mahasiswa dapat
mengetahui apa saja yang membuat pendidikan di negara ini masih buruk, dengan
adanya artikel ini kita bisa mengetahui masalah,penyebab,solusin yang kita pikirkan
agar menjadi panduan atau semangat kami untuk memajukan dan mengembangkan
pendidikan agar baik dan lebih baik dalam persaingan di dunia ini. Agar penerus
bangsa menjadi orang yang jenius dan berfikir lebih dari seorang siswa, itu
tujuan kami di masa datang sebagai calon pendidik kelak.
Inilah
artikelnya
Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas
dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud
di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan
bangsa Indonesia.
Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti
melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi,
melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di
asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui
radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu
akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.
Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah
atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka
pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal,
pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.
Beberapa waktu terakhir ini pendidikan di Indonesia mendapat angin
segar karena 20 % APBN dialokasikan untuk bidang pendidikan. Hal ini membawa
dampak positif bagi pendidikan di Indonesia.
Pendidikan di Indonesia memiliki sistem yang cukup baik akan tetapi
pelaksanaan di lapangan masih jauh dari ketentuan yang berlaku. Dengan
rendahnya mutu pendidikan di Indonesia karena ketertinggalan didalam mutu
pendidikan, Baik pendidikan formal maupun informal dan juga masalah
efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Adapun permasalahan khusus
dalam dunia pendidikan yaitu: Rendahnya sarana fisik, Rendahnya kualitas guru,
Rendahnya kesejahteraan guru, Rendahnya prestasi siswa, Rendahnya kesempatan
pemerataan pendidikan, Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
Mahalnya biaya pendidikan.
Misalnya saja dalam penyelenggaraan ujian nasional juga belum
berjalan sesuai harapan. Ujian nasional yang telah disusun sedemikian dari
sekian banyak ahli sering menemui kendala di lapangan. Banyak sekali
ditemukan hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dan dilakukan oleh para oknum
yang berkecimpun di dunia pendidikan.
Banyak sekali para pendidik dengan alasan kemanusiaan membantu para
anak didik mereka di ujian nasional. Padahal mereka tahu dan mengerti betul hal
tersebut tidak bisa dilakukan. Mereka menganggap anak didik mereka tidak
diperlakukan secara adil karena mereka mengenyam pendidikan di bangku sekolah
dengan failitas yang sangat minim dan kurangnnya informasi mereka dapat tentang
ujian nasional.
Pelaksanaan ujian nasional merupakan PR yang terus bertambah dari
tahun ke tahun dan tak kunjung selesai. Pendidikan memang sangat sulit utamanya
bagi para pendidik hal tersebut diperparah dengan disahkannya undang-undang HAM
yang tidak membenarkan seorang pendidik memberikan siswanya sanksi ketika
melanggar aturan melalui kontak fisik. Hal ini membuat anak didik tidak lagi
menghormati dan menghargai guru-guru mereka.
Mungkin kita masih sering mendengar cerita-cerita orang tua kita
dahulu betapa mereka sangat segan dengan guru-guru mereka. Berbeda dengan
sekarang, para anak didik sering berlaku tidak hormat kepada guru-guru mereka
dan bahkan ada yang sampai membuat guru-guru mereka menangis di dalam kelas.
Mendidik sungguh pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan dan memang
sangat wajar jika pemerintah memberikan perhatian khusus di bidang pendidikan.
Karena generasi muda tanpa pendidikan akan membuat negara tercinta kita ini
hancur di masa yang akan datang.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah
hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya
mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita
menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar
permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga
jadi kebih baik lagi.
Artikel ini bisa menambah pengetahuan pembacanya, karena mengandung
informasi yang berguna untuk kalangan banyak yaitu contohnya:
1. Bagi Pemerintah: Bisa dijadikan sebagai sumbangasih dalam
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,dll.
2. Bagi Guru: Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para
peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang,dll.
3. Bagi Mahasiswa: Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam
rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas
pendidikan pada umumnya, dll.
Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas
dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud
di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan
bangsa Indonesia.Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di
sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang
studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui
pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta
menyimpulkannya.
Dilihat dari judulnya, “Permasalahan Pendidikan di Indonesia”
seolah-olah menghimbau pembacanya agar mengetahui bahwa rendahnya pendidikan di
Indonesia untuk membuat para pembacanya bangkit memajukan mutu pendidikan di
Indonesia. Artikel ini menceritakan data-data pendidikan yang cukup lengkap,
Selain itu seharusnya gaya penulisannya lebih ditekankan pada persuasif,
sehingga masyarakat lebih terhimbau lagi untuk ikut mengamati bahwa masih
kurangnya mutu pendidikan di Indonesia dan mengajak pembacanya untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Yang terjadi pada artikel ini adalah digunakannya
paragraf deskriptif untuk menggambarkan keadaan pendidikan di Indonesia, dan
hanya sedikit kalimat persuasif yang kurang kuat dalam sebagian paragraf.
Solusi dari saya untuk permasalahan tersebut secara garis besar yang
dapat diberikan yaitu:
solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan
sistem pendidikan. Seperti sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem
ekonomi. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, yang berprinsip antara
lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk
pendanaan pendidikan. Menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana
fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga
perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan
sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam.
Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem
ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung
segala pembiayaan pendidikan negara.Rendahnya kualitas guru, misalnya, di
samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan
membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan
memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya
prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan
kuantitas materi pelajaran bukan dengan meningkatkan jam belajar yang
berlebihan karena setiap pelajar memiliki kemampuan yang berbeda dan sudah
banyak di penuhi pembelajaran di luar sekolah, tetapi harus juga meningkatkan
alat-alat, sarana dan prasarana pendidikan, dll.
Harapan dari apa yang sudah saya baca mengenai “Permasalahan
Pendidikan di Indonesia”, agar pendidikan di Indonesia semakin meningkat
menjadi lebih baik. Dengan syarat perubahan di lakukan dari diri sendiri untuk
pendidikan indonesia yang lebih baik lagi. Dan pemerintah tidak hanya merubah
suatu sistem begitu saja tetapi harus melihat kondisi siswa/siswi yang
menjalankan pendidikan itu sendiri.
Kesimpulan yang bisa kami ambil yaitu Kualitas pendidikan di
Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas
pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu
efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang
dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:
(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.
Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara
lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem
pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.
Mungkin hikmah yang kami ambil dari masalah pendidikan di indonesia
ini adanya Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak
semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan
kualitas pendidikannya terlebih dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia
yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini
bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. ^__^
rujukan/referensi http://novinurochay.blogspot.co.id/2014/12/artikel-permasalahan-pendidikan-di_27.html
Sabtu, 26 November 2016
Pemilihan Dan Penentuan Metode SBM
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Belajar
adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang
hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang
dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan
dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah
adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh
terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.[1]
Apabila
proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain
ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana,
baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Interaksi yang
terjadi selama proses belajar tersebut di pengaruhi oleh lingkungannya, yang
antara lain terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, petugas perpustakaan,
bahkan materi pelajaran ( buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video/audio
dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas ( proyektor,
over head, perekam pita audio dan video, radio, TV, computer, perpustakaan,
laboratorium, pusat sumber belajar dan lain-lain).
Guru
sebagai pemegang peranan terpenting dalam proses belajar mengajar di sekolah
dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar tersebut agar bergairah
sehingga tercipta lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan
belajar siswa di kelas. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang di
milikinya guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan
baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah
bagaimana cara memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan
kondisi kelas tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran di peroleh secara
optimal.
Para
gurupun di tuntut agar mampu menggunakan alat-alat yang telah disediakan oleh
sekolah. Sekurang-kurangnya guru dapat menggunakan alat yang murah dan efisien
yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai
tujuan pengajaran yang di harapkan. Di samping itu, guru juga dituntut untuk
dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan di
gunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran.
B. Rumusan
Masalah
A.
Pengertian Metode Pembelajaran ?
B.
Ciri-Ciri Umum Metode Pembelajaran Yang Baik ?
C.
Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran ?
D.
Pemilihan dan Penentuan Metode Pembelajaran ?
E.
Macam-Macam Metode Pembelajaran ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Metode Pembelajaran
Metode
secara harfiah berarti ‘cara’ dalam pemakaian yang umum, metode di artikan
sebagai suatu cara atau prosedur yang di pakai untuk mencapai tujuan tertentu.
Kata ‘Pembelajaran’ sendiri berarti belajar. Jadi metode pembelajaran adalah
cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu keterampilan guru yang memegang
peranan penting dalam pembelajaran adalah ketrampilan memilih metode. Pemilihan
metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan
pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan
pembelajaran di peroleh secara oftimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang
sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode
sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang
sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen
pendidikan.[2]
B. Ciri-Ciri
Umum Metode Pembelajaran yang Baik.
Setiap
guru yang akan mengajar senantiasa di hadapkan pada pilihan metode. Banyak
macam metode yang bias dipilih guru dalam kegiatan pembelajaran. Namun tidak
semua metode bias dikategorikan sebagai metode yang baik, dan tidak pula semua
metode di katakan jelek. Kebaikan suatu metode terletak pada ketepatan memilih
sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Omar Muhammad Al-Toumi (dalam buku
strategi pembelajaran PAI) mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode
yang baik untuk pembelajaran PAI yaitu:
1. Berpadunya metode dari segi tujuan dan alat
dengan jiwa dan ajaran akhlak islami yang`mulia.
2. Bersifat luwes, fleksibel
dan memiliki daya sesuai dengan watak siswa dan materi 3. Bersifat fungsional dalam
menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan siswa pada`kemampuan`praktis.
4. Tidak mereduksi
materi bahkan sebaliknya justru mengembangkan materi 5. Memberikan keleluasaan pada siswa untuk menyampaikan
pendapatnya 6. Mampu menempatkan guru
dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.[3]
C.
Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran
Metode
mengajar yang digunakan guru dalam setiap pertemuan kelas bukanlah asal pakai,
tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan tujuan instruksional
khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu
rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya,
gurupun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang
satu di gunakan untuk mencapai yang satu, sementara penggunaan metode yang lain
juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.[4]
Metode
apapun yang di pilih dalam kegiatan belajar mengajar hendaklah memperhatikan
beberapa prinsip yang mendasari urgensi metode dalam proses belajar mengajar,
yakni:
1. Prinsip
motivasi dan tujuan belajar, motivasi memiliki kekuatan sangat besar dalam
proses pembelajaran. 2. Prinsip
kematangan dan perbedaan individual, belajar memiliki masa kepekaan
masing-masing dan tiap anak memiliki tempo kepekaan yang tidak sama. Kepekaan
intelek anak menurut J. Piaget dalam mansyur (dalam buku psikologi perkembangan)
memiliki 3 fase :
a. Fase
praoperasional, yakni usia 5 – 6 tahun/ masa Pra sekolah, fase ini belum bisa
membedakan sesuatu secara konsep / abstak. Cara yang mengajarkan yang abstrak mungkin
bisa di tempuh melalui doktrin, cerita, nyanyian bahkan dengan Do’a. fase
perkembangan moral pada tahap ini lebih bersifat Pra moral yang belum terikat
pada aturan.
b. Fase
operasi kongkrit, masa ini anak sudah mulai bisa di bawa berfikir abstrak, fase
perkembangan moral tahap ini lebih bersifat konvensional, yakni taat dan patuh
pada kekuasaan, benar menurut siapa yang mengatakan.
c. Fase
oprasional formal, fase ini anak sudah mulai bisa memikirkan apa yang ada di
balik realitas baik melalui percobaan maupun observasi.
3.
Prinsip penyediaan peluang dan pengalaman praktis, belajar dengan memperhatikan
peluang sebesar-besarnya bagi partisifasi anak didik dan pengalaman langsung
oleh anak jauh memiliki makna ketimbang belajar verbalistik.
4. Integrasi
pemahaman dan pengalaman, penyatuan pemahaman dan pengalaman menghendaki suatu
proses pembelajaran yang mampu menerapkan pengalaman nyata dalam suatu daur
proses belajar. Pendekatan belajar yang mungkin dapat di lakukan adalah
mengalami ( Mengerjakan, mengamati, melihat ), mengungkapkan ( mengungkapkan kembali dan memberi tanggapan
atau kesan ), mengolah ( satu pengalaman dikaitkan dengan pengalaman lain yang
mungkin mengandung makna yang serupa ), menyimpulkan ( mengembangkan atau
merumuskan prinsip-prinsip berupa kesimpulan umum dari pengalaman itu ),
menerapkan ( dipergunakan atau di uji dala perilaku yang sesungguhnya ).
5.
Prinsip Fungsional, belajar merupakan proses pengalaman hidup yang bermanfaat
bagi kehidupan berikutnya, bisa berupa nilai manfaat, teoritik atau praktis
bagi kehidupan sehari-hari.
6. Prinsip
Menggembirakan, karena belajar merupakan proses yang terus berlanjut tanpa
berhenti seiring kebutuhan dan tuntutan yang terus berkembang, maka metode
mengajar jangan sampai memberi kesan memberatkan sehingga kesadaran belajar
pada anak cepat berakhir.[5]
D. Pemilihan dan Penentuan Metode
Pembelajaran
Guru
sebagai salah satu sumber belajar berkewajiaban menyediakan lingkungan belajar
yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan belajar siswa di kelas. Salah satu
kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan
metode pengajaran. Guru harus mengenali karakteristik dari masing-masing metode
pengajaran tersebut, karena itu seorang guru harus mengetahui kelebihan dan
kelemahan dari metode-metode pengajaran itu tadi.
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam
pemilihan dan penentuan metode adalah :
1.
Nilai strategis metode
Metode
merupakan fasilitas untuk mengantarkan bahan pelajaran dalam upaya mencapai
tujuan. Oleh karena itu bahan pelajaran tersebut harus di sampaikan dengan
memperhatikan pemakaian metode yang sesuai dengan sifat bahan dan tujuan
pengajaran supaya kondisi kelas bergairah dan kondisi anak didik kreatip. Oleh
karena itu dapat di pahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai
strategis dalam kegiatan belajar mengajar karena metode dapat mempengaruhi
jalannya kegiatan belajar mengajar.[6]
2.
Efektivitas Penggunaan Metode
Dalam
menetapkan metode mengajar, metode tersebut hendaknya menjadi ‘variabel
dependen’ yang dapat berubah dan berkembang sesuai kebutuhan. Karena itu
efektivitas penggunaan metode dapat terjadi apabila ada kesesuaian antara
metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan
pelajaran sebagai persiapan tertulis.[7]
3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan dan Penentuan Metode antara lain :
a.
Tujuan yang hendak di capai yaitu sasaran yang di tuju dari setiap kegiatan
belajar mengajar. Karakteristik tujuan yang akan di capai sangat mempengaruhi penentuan
metode sebab metode tunduk pada tujuan, bukan sebaliknya.
b.
Materi Pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak di sampaikan oleh guru untuk
bisa di pelajari dan di kuasai anak didik.
c.
Peserta Didik sebagai subjek belajar yang memiliki karakteristik yang berbeda
baik secara fisik, psikologis, atau biologis.
d.
Situasi Kegiatan Belajar merupakan setting lingkungan pembelajaran yang
dinamis.
e.
Fasilitas sangatlah penting guna berjalannya proses pembelajaran yang efektif
f.
Guru, harus memiliki jiwa professional. Kompetensi mengajar seorang guru di
pengaruhi oleh kepribadian, performance style, kebiasaan, pengalaman mengajar
juga latar pendidikan guru tersebut.[8]
E. Macam-Macam
Metode Pembelajaran, diantaranya :
1. Metode Ceramah
Metode ceramah ialah sebuah
metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan
kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.
Metode
ini memiliki kelebihan :
-
Guru mudah menguasai kelas
-
Mudah mengorganisasikan kelas
-
Dapat di ikuti oleh jumlah siswa banyak
-
Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
-
Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
Di
samping itu metode ceramah juga memiliki kelemahan yaitu :
-
Mudah menjadi verbalisme ( pengertian kata-kata )
-
Yang visual menjadi rugi, yang auditif ( mendengar ) yang lebih besar
menerimanya
-
Bila selalu di gunakan dan terlalu lama membosankan
-
Siswa menjadi pasif [9]
2. Metode Tanya Jawab
Metode
Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
di jawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada
guru.
Metode Tanya jawab memiliki kelebihan
yaitu :
-
Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa
-
Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir dan ingatan
- Mengembangkan
keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Metode
Tanya jawab juga memiliki kelemahan yaitu :
-
Siswa merasa takut
-
Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat daya berfikir dan
mudah di pahami siswa
-
Waktu sering banyak terbuang[10]
3. Metode
Diskusi
Metode
diskusi adalah salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang
di hadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan
argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
Metode
diskusi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Merangsang kreativitas siswa
-
Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
-
Memperluas wawasan
-
Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah
Metode
diskusi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang panjang
-
Tidak dapat di pakai pada kelompok besar
-
Peserta mendapat informasi yang terbatas
-
Mungkin di kuasai oleh siswa yang suka berbicara / ingin menonjolkan diri[11]
4. Metode
Demonstrasi
Metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan / mempertunjukan
kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang di pelajari,
baik sebenarnya maupun tiruan, yang sering di sertai dengan penjelasan lisan.
Metode
demonstrasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Pelajaran menjadi lebih jelas dan konkrit
-
Siswa mudah memahami pelajaran
-
Proses pengajarannya lebih menarik
-
Merangsang siswa untuk aktif mengamati dan melakukannya sendiri
Metode
demonstrasi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Memerlukan keterampilan guru secara khusus
-
Pasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu
tersedia dengan baik
-
Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
-
Memerlukan waktu yang cukup panjang[12]
5. Metode Karya
Wisata
Metode
karya wisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke
suatu tempat objek tertentu di luar sekolah, untuk mempelajari / menyelidiki
sesuatu. Hal ini bukan rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam
pengetahuannya dengan melihat langsung / kenyataan.
Metode
karya wisata ini melebihi kelebihan yaitu :
-
Dapat memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran
-
Membuat apa yang di pelajari lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di
masyarakat
-
Lebih merangsang kreativitas siswa
-
Informasi lebih luas dan actual
-
Menyegarkan tubuh dan menambah kesehatan
-
Melatih anak-anak agar kuat
Metode
karya wisata ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Sulitnya pasilitas dan biaya yang di perlukan
-
Memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang
- Memerlukan koordinasi dengan guru bid. Study lain agar tidak terjadi timpang
tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata
- Unsur rekreasi lebih menjadi prioritas sedang tujuan utamanya yaitu unsure
studynya menjadi terabaikan
- Sulit mengatur siswa yang banyak[13]
6. Metode
Eksperimen ( Percobaan )
Metode
eksperimen ( percobaan ) adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa
melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang di
pelajari.
Metode
eksperimen ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Siswa lebih percaya atas suatu kebenaran / kesimpulan
- Pembina siswa untuk membuat trobosan-trobosan baru dengan penemuan dengan
hasil-hasil percobaannya
-
Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat di manfaatkan untuk kemakmuran umat
manusia
Metode
eksperimen ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Lebih sesuai dengan bidang-bidang sains
/ tekhnologi
-
Memerlukan berbagai pasilitas peralatan dan bahan yang sulit di peroleh dan
mahal
-
Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
-
Tidak selalu memberikan hasil yang di harapkan[14]
7. Metode
Sosiodrama
Metode
sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya
dengan masalah social.
Metode
sosiodrama ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan di
dramakan
-
Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif
-
Dapat memupuk bakat siswa
-
Dapat menumbuhkan kerja sama antar pemain
-
Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
-
Dapat membina bahasa lisan siswa menjadi baik agar mudah di pahami orang lain
Metode
sosiodrama ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang kreatif
-
Banyak memakan waktu
-
Memerlukan tempat yang cukup luas
-
Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan penonton[15]
8. Metode
Problem Solving ( Metode Pemecahan Masalah )
Metode
Problem Solving merupakan metode mengajar sekaligus metode berfikir sebab dapat
juga menggunakan metode-metode lainnya yang di mulai dengan mencari data sampai
kepada menarik kesimpulan.
Metode
Problem Solving ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Membuat pendidikan di sekolah lebih relevan dengan kehidupan khusunya denga
dunia kerja
-
Dapat membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah dengan trampil
- Merangsang
pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh
Metode
Problem Solving ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
- Memerlukan kemampuan dan keterampilan guru untuk menentukan suatu masalah yang
tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa
-
Memerlukan waktu yang cukup lama
-
Memerlukan berbagai sumber belajar karena mengbah kebiasaan belajar siswa dari
mendengar dan menerima informasi menjadi berfikir memecahkan masalah[16]
9. Metode
Penugasan dan Resitasi
Metode
Penugasan dan Resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan
tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Biasanya metode ini di
pilih karena banyaknya bahan tidak sesuai dengan waktu yang tersedia.
Metode
Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-
Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual / kelompok
-
Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru
-
Dapat mambina tanggung jawab dan disiplin siswa
-
Dapat mengembangkan kreativitas siswa
Metode
Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelemahan yaitu :
-
Siswa sulit di control, apakah di kerjakan sendiri / oleh orang lain
-
Dalam tugas kelompok, tidak semua berpartisipasi
-
Tidak mudah memberikan yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
- Sering memberikan tugas yang monoton ( tidak berpariasi ) dan menimbulkan
kebosanan siswa[17]
10. Metode
Latihan ( Training )
Metode
Latihan ( Training ) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan
kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Metode
Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelebihan yaitu :
-
Untuk memperoleh kecakapan motorik
-
Untuk memperoleh kecakapan mental
-
Untuk memperoleh kecakapan asosiasi yang di buat
Metode
Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-
Menghambat bakat dan inisiatif siswa
-
Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
-
Kalau di lakukan secara berulang-ulang membosankan
-
Membentuk kebiasaan yang kaku karna bersifat otomatis
-
Dapat menimbulkan verbalisme[18]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Metode
pembelajaran adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan. Banyak macam metode yang bias di pilih guru dalam
kegiatan pembelajaran, namun tidak semua metode bias di katakana baik dan tidak
pula semua metode di katakana jelek, kebaikan suatu metode terletak pada
ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Dengan demikian salah
satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pembelajaran adalah
keterampilam memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi
sehingga pencapaian tujuan pembelajaran di peroleh secara oftimal.
B. Saran
Di
harapkan kepada semua guru agar trampil dalam memilih dan menentukan metode
pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas.
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah,
Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar,
Banjarmasin : Rineka Cipta 1995
Fathurrahman, Pupuh dan M. Sobry
Sutikno, Strategi Belajar Mengajar,
Bandung : Refika Aditama 2007
N.K,
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar,
Jakarta : Rineka Cipta 2008
Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar
proses pendidikan bandung :kencana. 2006
[1] Djamarah,
Syaiful Bahri, strategi belajar mengajar.
(Jakarta:Rineka cipta.2006). hlm.56
[2] Ibid,
hlm.58
[4] Ahmad
Sabri, Strategi Belajar Mengajar Micro
Teaching, (Jakarta : Quantum Teaching, 2005), hlm. 56
[6] Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar
proses pendidikan.(bandung:kencana.2006),
hlm154
[7] Ibid, hlm155
[8] Winarno Surakhmad. strategi pembelajaran .(bandung:kencana.1994), hlm59
[10] Ibid, hlm.122
[11] Ibid, hlm.52-53
[12] Ibid, hlm.54-55
[13] Ibid, hlm.56
[14] Ibid, hlm.57
[15] Ibid, hlm.58
[16] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta :
Quantum Teaching, 2003), hlm.55
[17] Ibid, hlm.57
[18] Ibid,
hlm.59
Langganan:
Postingan (Atom)






