Sabtu, 26 November 2016

Pemilihan Dan Penentuan Metode SBM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.[1]
Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut di pengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahkan materi pelajaran ( buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video/audio dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas ( proyektor, over head, perekam pita audio dan video, radio, TV, computer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar dan lain-lain).
Guru sebagai pemegang peranan terpenting dalam proses belajar mengajar di sekolah dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar tersebut agar bergairah sehingga tercipta lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan belajar siswa di kelas. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang di milikinya guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana cara memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran di peroleh secara optimal.
Para gurupun di tuntut agar mampu menggunakan alat-alat yang telah disediakan oleh sekolah. Sekurang-kurangnya guru dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang di harapkan. Di samping itu, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan di gunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
A. Pengertian Metode Pembelajaran ?
B. Ciri-Ciri Umum Metode Pembelajaran Yang Baik ?
C. Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran ?
D. Pemilihan dan Penentuan Metode Pembelajaran ?
E. Macam-Macam Metode Pembelajaran ?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode secara harfiah berarti ‘cara’ dalam pemakaian yang umum, metode di artikan sebagai suatu cara atau prosedur yang di pakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata ‘Pembelajaran’ sendiri berarti belajar. Jadi metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pembelajaran adalah ketrampilan memilih metode. Pemilihan metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran di peroleh secara oftimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan.[2]

B. Ciri-Ciri Umum Metode Pembelajaran yang Baik.

Setiap guru yang akan mengajar senantiasa di hadapkan pada pilihan metode. Banyak macam metode yang bias dipilih guru dalam kegiatan pembelajaran. Namun tidak semua metode bias dikategorikan sebagai metode yang baik, dan tidak pula semua metode di katakan jelek. Kebaikan suatu metode terletak pada ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Omar Muhammad Al-Toumi (dalam buku strategi pembelajaran PAI) mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran PAI yaitu:
1.  Berpadunya metode dari segi tujuan dan alat dengan jiwa dan ajaran akhlak islami yang`mulia.                                                                                                                               2.  Bersifat luwes, fleksibel dan memiliki daya sesuai dengan watak siswa dan materi                      3. Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan siswa pada`kemampuan`praktis.                                                                                                                        4. Tidak mereduksi materi bahkan sebaliknya justru mengembangkan materi                     5.  Memberikan keleluasaan pada siswa untuk menyampaikan pendapatnya                          6.  Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.[3]

C. Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran

Metode mengajar yang digunakan guru dalam setiap pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan tujuan instruksional khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, gurupun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu di gunakan untuk mencapai yang satu, sementara penggunaan metode yang lain juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.[4]
Metode apapun yang di pilih dalam kegiatan belajar mengajar hendaklah memperhatikan beberapa prinsip yang mendasari urgensi metode dalam proses belajar mengajar, yakni:
1. Prinsip motivasi dan tujuan belajar, motivasi memiliki kekuatan sangat besar dalam proses pembelajaran.                                                                                                                                            2. Prinsip kematangan dan perbedaan individual, belajar memiliki masa kepekaan masing-masing dan tiap anak memiliki tempo kepekaan yang tidak sama. Kepekaan intelek anak menurut J. Piaget dalam mansyur (dalam buku psikologi perkembangan) memiliki 3 fase :
a.   Fase praoperasional, yakni usia 5 – 6 tahun/ masa Pra sekolah, fase ini belum bisa membedakan sesuatu secara konsep / abstak. Cara yang mengajarkan yang abstrak mungkin bisa di tempuh melalui doktrin, cerita, nyanyian bahkan dengan Do’a. fase perkembangan moral pada tahap ini lebih bersifat Pra moral yang belum terikat pada aturan.
b.  Fase operasi kongkrit, masa ini anak sudah mulai bisa di bawa berfikir abstrak, fase perkembangan moral tahap ini lebih bersifat konvensional, yakni taat dan patuh pada kekuasaan, benar menurut siapa yang mengatakan.
c.  Fase oprasional formal, fase ini anak sudah mulai bisa memikirkan apa yang ada di balik realitas baik melalui percobaan maupun observasi.
3. Prinsip penyediaan peluang dan pengalaman praktis, belajar dengan memperhatikan peluang sebesar-besarnya bagi partisifasi anak didik dan pengalaman langsung oleh anak jauh memiliki makna ketimbang belajar verbalistik.
4. Integrasi pemahaman dan pengalaman, penyatuan pemahaman dan pengalaman menghendaki suatu proses pembelajaran yang mampu menerapkan pengalaman nyata dalam suatu daur proses belajar. Pendekatan belajar yang mungkin dapat di lakukan adalah mengalami ( Mengerjakan, mengamati, melihat ), mengungkapkan                       ( mengungkapkan kembali dan memberi tanggapan atau kesan ), mengolah ( satu pengalaman dikaitkan dengan pengalaman lain yang mungkin mengandung makna yang serupa ), menyimpulkan ( mengembangkan atau merumuskan prinsip-prinsip berupa kesimpulan umum dari pengalaman itu ), menerapkan ( dipergunakan atau di uji dala perilaku yang sesungguhnya ).
5. Prinsip Fungsional, belajar merupakan proses pengalaman hidup yang bermanfaat bagi kehidupan berikutnya, bisa berupa nilai manfaat, teoritik atau praktis bagi kehidupan sehari-hari.
6. Prinsip Menggembirakan, karena belajar merupakan proses yang terus berlanjut tanpa berhenti seiring kebutuhan dan tuntutan yang terus berkembang, maka metode mengajar jangan sampai memberi kesan memberatkan sehingga kesadaran belajar pada anak cepat berakhir.[5]

D. Pemilihan dan Penentuan Metode Pembelajaran
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiaban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan belajar siswa di kelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode pengajaran. Guru harus mengenali karakteristik dari masing-masing metode pengajaran tersebut, karena itu seorang guru harus mengetahui kelebihan dan kelemahan dari metode-metode pengajaran itu tadi.
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode adalah :

1. Nilai strategis metode

Metode merupakan fasilitas untuk mengantarkan bahan pelajaran dalam upaya mencapai tujuan. Oleh karena itu bahan pelajaran tersebut harus di sampaikan dengan memperhatikan pemakaian metode yang sesuai dengan sifat bahan dan tujuan pengajaran supaya kondisi kelas bergairah dan kondisi anak didik kreatip. Oleh karena itu dapat di pahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar karena metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.[6]

2. Efektivitas Penggunaan Metode

Dalam menetapkan metode mengajar, metode tersebut hendaknya menjadi ‘variabel dependen’ yang dapat berubah dan berkembang sesuai kebutuhan. Karena itu efektivitas penggunaan metode dapat terjadi apabila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran sebagai persiapan tertulis.[7]

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan dan Penentuan Metode antara lain :

a. Tujuan yang hendak di capai yaitu sasaran yang di tuju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Karakteristik tujuan yang akan di capai sangat mempengaruhi penentuan metode sebab metode tunduk pada tujuan, bukan sebaliknya.
b. Materi Pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak di sampaikan oleh guru untuk bisa di pelajari dan di kuasai anak didik.
c. Peserta Didik sebagai subjek belajar yang memiliki karakteristik yang berbeda baik secara fisik, psikologis, atau biologis.
d. Situasi Kegiatan Belajar merupakan setting lingkungan pembelajaran yang dinamis.
e. Fasilitas sangatlah penting guna berjalannya proses pembelajaran yang efektif
f. Guru, harus memiliki jiwa professional. Kompetensi mengajar seorang guru di pengaruhi oleh kepribadian, performance style, kebiasaan, pengalaman mengajar juga latar pendidikan guru tersebut.[8]

E. Macam-Macam Metode Pembelajaran, diantaranya :

1. Metode Ceramah

Metode ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.
Metode ini memiliki kelebihan :
-         Guru mudah menguasai kelas
-         Mudah mengorganisasikan kelas
-         Dapat di ikuti oleh jumlah siswa banyak
-         Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
-         Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
Di samping itu metode ceramah juga memiliki kelemahan yaitu :
-         Mudah menjadi verbalisme ( pengertian kata-kata )
-         Yang visual menjadi rugi, yang auditif ( mendengar ) yang lebih besar menerimanya
-         Bila selalu di gunakan dan terlalu lama membosankan
-         Siswa menjadi pasif [9]

2. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus di jawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode Tanya jawab memiliki kelebihan yaitu :
-         Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa
-         Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir dan  ingatan
-     Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Metode Tanya jawab juga memiliki kelemahan yaitu :
-         Siswa merasa takut
-         Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat daya berfikir dan mudah di pahami siswa
-         Waktu sering banyak terbuang[10]

3. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang di hadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
Metode diskusi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Merangsang kreativitas siswa
-         Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
-         Memperluas wawasan
-         Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah
Metode diskusi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang panjang
-         Tidak dapat di pakai pada kelompok besar
-         Peserta mendapat informasi yang terbatas
-         Mungkin di kuasai oleh siswa yang suka berbicara / ingin menonjolkan diri[11]


4. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan / mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang di pelajari, baik sebenarnya maupun tiruan, yang sering di sertai dengan penjelasan lisan.
Metode demonstrasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Pelajaran menjadi lebih jelas dan konkrit
-         Siswa mudah memahami pelajaran
-         Proses pengajarannya lebih menarik
-         Merangsang siswa untuk aktif mengamati dan melakukannya sendiri
Metode demonstrasi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Memerlukan keterampilan guru secara khusus
-         Pasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik
-         Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
-         Memerlukan waktu yang cukup panjang[12]

5. Metode Karya Wisata

Metode karya wisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat objek tertentu di luar sekolah, untuk mempelajari / menyelidiki sesuatu. Hal ini bukan rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pengetahuannya dengan melihat langsung / kenyataan.
Metode karya wisata ini melebihi kelebihan yaitu :
-         Dapat memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran
-         Membuat apa yang di pelajari lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat
-         Lebih merangsang kreativitas siswa
-         Informasi lebih luas dan actual
-         Menyegarkan tubuh dan menambah kesehatan
-         Melatih anak-anak agar kuat
Metode karya wisata  ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Sulitnya pasilitas dan biaya yang di perlukan
-         Memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang
-        Memerlukan koordinasi dengan guru bid. Study lain agar tidak terjadi timpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata
-      Unsur rekreasi lebih menjadi prioritas sedang tujuan utamanya yaitu unsure studynya menjadi terabaikan
-        Sulit mengatur siswa yang banyak[13]

6. Metode Eksperimen ( Percobaan )

Metode eksperimen ( percobaan ) adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang di pelajari.
Metode eksperimen ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Siswa lebih percaya atas suatu kebenaran / kesimpulan
-      Pembina siswa untuk membuat trobosan-trobosan baru dengan penemuan dengan hasil-hasil percobaannya
-         Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat di manfaatkan untuk kemakmuran umat manusia
Metode eksperimen ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Lebih sesuai dengan bidang-bidang sains / tekhnologi
-         Memerlukan berbagai pasilitas peralatan dan bahan yang sulit di peroleh dan mahal
-         Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
-         Tidak selalu memberikan hasil yang di harapkan[14]

7. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah social.
Metode sosiodrama ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan di dramakan
-         Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif
-         Dapat memupuk bakat siswa
-         Dapat menumbuhkan kerja sama antar pemain
-         Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
-         Dapat membina bahasa lisan siswa menjadi baik agar mudah di pahami orang lain
Metode sosiodrama ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang kreatif
-         Banyak memakan waktu
-         Memerlukan tempat yang cukup luas
-         Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan penonton[15]

8. Metode Problem Solving ( Metode Pemecahan Masalah )

Metode Problem Solving merupakan metode mengajar sekaligus metode berfikir sebab dapat juga menggunakan metode-metode lainnya yang di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Metode Problem Solving ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Membuat pendidikan di sekolah lebih relevan dengan kehidupan khusunya denga dunia kerja
-         Dapat membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah dengan trampil
-        Merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh
Metode Problem Solving ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-        Memerlukan kemampuan dan keterampilan guru untuk menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa
-          Memerlukan waktu yang cukup lama
-         Memerlukan berbagai sumber belajar karena mengbah kebiasaan belajar siswa dari mendengar dan menerima informasi menjadi berfikir memecahkan masalah[16]

9. Metode Penugasan dan Resitasi

Metode Penugasan dan Resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Biasanya metode ini di pilih karena banyaknya bahan tidak sesuai dengan waktu yang tersedia.
Metode Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual / kelompok
-         Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru
-         Dapat mambina tanggung jawab dan disiplin siswa
-         Dapat mengembangkan kreativitas siswa
Metode Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelemahan yaitu :
-         Siswa sulit di control, apakah di kerjakan sendiri / oleh orang lain
-         Dalam tugas kelompok, tidak semua berpartisipasi
-         Tidak mudah memberikan yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
-     Sering memberikan tugas yang monoton ( tidak berpariasi ) dan menimbulkan kebosanan siswa[17]

10. Metode Latihan ( Training )

Metode Latihan ( Training ) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Metode Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelebihan yaitu :
-     Untuk memperoleh kecakapan motorik
-     Untuk memperoleh kecakapan mental
-     Untuk memperoleh kecakapan asosiasi yang di buat
Metode Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-     Menghambat bakat dan inisiatif siswa
-     Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
-     Kalau di lakukan secara berulang-ulang membosankan
-     Membentuk kebiasaan yang kaku karna bersifat otomatis
-     Dapat menimbulkan verbalisme[18]



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Banyak macam metode yang bias di pilih guru dalam kegiatan pembelajaran, namun tidak semua metode bias di katakana baik dan tidak pula semua metode di katakana jelek, kebaikan suatu metode terletak pada ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Dengan demikian salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pembelajaran adalah keterampilam memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran di peroleh secara oftimal.

B. Saran

Di harapkan kepada semua guru agar trampil dalam memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas.

  

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Banjarmasin : Rineka Cipta 1995
Fathurrahman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Refika Aditama 2007
N.K, Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta 2008
Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar proses pendidikan bandung :kencana. 2006




[1] Djamarah, Syaiful Bahri, strategi belajar mengajar. (Jakarta:Rineka cipta.2006). hlm.56
[2] Ibid, hlm.58
[3] Omar Muhammad Al-Toumi , strategi pembelajaran PAI. (Jakarta:Rineka cipta.1983). hlm.50
[4] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching, (Jakarta : Quantum Teaching, 2005), hlm. 56
[5] Ibid, hlm. 60
[6] Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar proses pendidikan.(bandung:kencana.2006), hlm154
[7] Ibid, hlm155
[8] Winarno Surakhmad. strategi pembelajaran .(bandung:kencana.1994), hlm59
            [9] Hafni Ladjid, Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi,( Quantum Teaching, 2005), hlm.121
[10]  Ibid, hlm.122
[11] Ibid, hlm.52-53
[12] Ibid, hlm.54-55
[13] Ibid, hlm.56
[14] Ibid, hlm.57
[15] Ibid, hlm.58
[16] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Quantum Teaching, 2003), hlm.55
[17] Ibid, hlm.57
[18]  Ibid, hlm.59

Jumat, 25 November 2016

Makalah Teknik Penggunaan Media Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Teknik adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna. Sedangkan Media adalah pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar artau penyalur pesan. 
Sebagai seorang guru pasti pernah mengalami kesulitan dalam menjelaskan suatu materi pelajaran kepada siswanya. Hal ini karena perbedaan daya tangkap peserta didik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga terkadang membuat guru mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi. Kadang terselip dibenak seorang guru mengenai beberapa cara yang mungkin bisa mengatasi kesulitan tersebut. Namun pada saat cara tersebut digali lagi, maka akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah cara yang di ambil sudah merupakan cara yang paling efektif atau belum.
  Menjadi seorang guru kita harus inovatif, karena banyak pendidik yang tidak dapat menggunakan atau menerapkan teknik dan media pembelajaran dengan baik.  Seorang guru seharusnya dapat menggunakan media-media yang ada pada saat ini dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan dan memudahkan siswa-siswi mencerna pelajaran dengan baik, sehingga siswa pun menjadi bisa lebih tertarik lagi saat belajar dengan menggunakan media dan teknik-teknik yang diberikan secara langsung oleh pendidik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian teknik?
2.      Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Apa fungsi media pembelajaran?
4.      Apa saja ciri-ciri media pembelajaran?
5.      Apa saja prinsip-prinsip media pembelajaran?
6.      Bagaimana penggunaan media pembelajaran berdasarkan tempat?
7.      Bagaimana penggunaan media  pembelajaran secara terprogram?
8.      Bagaimana penggunaan media pembelajaran tidak terprogram?
9.      Apa saja variasi penggunaan media pembelajaran?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa pengertian dari teknik.
2.      Untuk mengetahui apa pengertian dari media pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui fungsi media pembelajaran.
4.      Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri media pembelajaran.
5.      Untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip media pembelajaran.
6.      Untuk mengetahui penggunaan media berdasarkan tempat.
7.      Untuk mengetahui penggunaan media secara terprogram.
8.      Untuk mengetahui penggunaan media tidak terprogram.
9.      Untuk mengetahui variasi penggunaan media.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teknik
Teknik (dalam bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna.
B.     Pengertian Media Pembelajaran
Media adalah teknologi pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Scramm: 1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerimaan pesan (a receiver). Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (messagges) dalam rangka mencapai tujun pembelajaran. Dalam hal ini terlihat adanya hubungan antara media dengan pesan dan metode.1
Rossi dan Breidle (1966:3) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran.[1]

C.    Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki fungsi yang sangat strategis dalam pembelajaran. Seringkali terjadi banyaknya siswa yang tidak atau kurang memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru atau pembentukan kompetensi yang diberikan kepada siswa dikarenakan ketiadaan atau kurang optimalnya pemberdayaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ada beberapa fungsi media pembelajaran, diantaranya:[2]
1.      Sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah, memperjelas, mempercepat penyampai pesan atau materi pelajaran kepada para siswa, sehingga inti dari materi pelajaran secara utuh dapat disampaikan pada para siswa.
2.      Sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang mana didalamnya memiliki sub-sub komponen diantaranya adalah komponen pembelajaran.
3.      Sebagai pengarah dalam pembelajaran
Salah satu fungsi dari media pembelajaran adalah sebagai pengarah pesan atau materi apa yang akan disampaikan, atau kompetensi apa yang akan dikembangkan untuk dimiliki siswa.
4.      Sebagai permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa
Media pembelajaran dapat membangkitkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar, karena media pembelajaran dapat mengakomodasi semua kecakapan siswa dalam belajar.
5.      Meningkatkan hasil dan proses pembelajaran
Secara kualita dan kuantitas media pembelajaran sangat memberikan konstribusi terhadap hasil maupun proses pembelajaran.
6.      Mengurangi terjadinya verbalisme
Dalam pembelajaran sering terjadi siswa mengalami verbalisme karena apa yang dijelaskan oleh guru lebih bersifat abstrak. Dengan demikian media pembelajaran dapat berfungsi sebagai alat yang efektif dalam memperjelas pesan yang disampaikan.
7.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra
Sering terjadi dalam pembelajaran menjelaskan objek pembelajaran yang sifatnya sangat luas, besar atau sempit, kecil atau bahaya, sehingga memerlukan alat bantu untuk memperjelas, mendekatkan pada objek yang dimaksud.
D.    Prinsip Media Pembelajaran
Dalam menentukan maupun memiliki media pembelajaran, seorang guru harus mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai acuan dalam mengoptimalkan pembelajaran.
Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah:
1.      Efektivitas
Pemilihan media pembelajaran harus berdasarkan pada ketepatgunaan (efektivitas) dalam pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran atau pembentukan kompetensi, guru harus berusaha agar media pembelajaran yang diperlukan untuk membentuk kompetensi secara optimal dapat digunakan dalam pembelajaran.
2.      Relevansi
Kesesuaian media pembelajaran yang digunakan dengan tujuan karakteristik materi pembelajaran, potensi dan perkembangan siswa dengan waktu yang tersedia.
3.      Efisiensi
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran  harus benar-benar memperhatikan bahwa media tersebut murah atau hemat biaya, tetapi dapat menyampaikan inti pesan yang dimaksud, persiapan dan penggunaannya relatif memerlukan waktu yang singkat, kemudian hanya memerlukan sedikit tenaga.
4.      Dapat digunakan
Media pembelajaran yang dipilih harus benar-benar digunakan atau diterapkan dalam pembelajaran, sehingga dapat menambah pemahaman siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
5.      Kontekstual
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran harus mengedepankan aspek lingkungan sosial budaya siswa. Alngkah baiknya jika mempertimbangkan aspek pengembangan pada pembelajaran life skills.[3]
E.     Ciri-ciri Media Pembelajaran
Menurut Gerlach dan Ely (1971) ada tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu melakukannya.[4]
1.      Ciri Fiksatif
Ciri ini mengembangkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan merekomendasikan, merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian atau objek yang telah direkam dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat bahkan dapat ditransfer kedalam format lainnya. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali dapat dibandingkan dan disusun kembali untuk keperluan kegiatan pembelajaran.
2.      Ciri Manipulatif
Transformasi suatu kejadian atau objek  dimungkinkan karena media memiliki manipulatif. Kejadian yang memakan waktu yang lama dapat disajikan kepada siswa dalam waktu sekejab dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian lebih karena apabila terjadi kesalahan dalam peraturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran, sehingga dapat merubah sikap siswa ke arah yang tidak di inginkan.
3.      Ciri Distributif
Ciri ini memungkinkan suatu objek atau kejadian transportasikan melalui ruangan dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah siswa besar dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
F.     Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
Pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun diluar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak selalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namun proses belajar tanpa kehadiran guru pun dan lebih mengandalkan media termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, e-learning, pembelajaran individual dengan CD interaktif, video interaktif dan lain-lain.
Berdasarkan tempat penggunaanya, terdapat beberapa teknik penggunaan media pembelajaran, yaitu:
1.      Penggunaan media dikelas
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapai nya tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut.
2.      Penggunaan media diluar kelas
Seperti yang telah disinggung diatas, terdapat media yang penggunaannya diluar situasi kelas. Dalam hal ini media tidak secara langsung dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui pegontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran diluar situasi kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak terprogram dan penggunaan media secara terprogram.
G.    Penggunaan Media Tidak Terprogram
Penggunaan media dapat terjadi dimasyarakat luas. Hal ini ada kaitannya dengan keberadaan media massa yang ada dimasyarakat. Misalnya televisi, radio, penggunaan film melalui CD/DVD ROM. Penggunaan media ini bersifat bebas yaitu bahwa media itu digunakan tanpa dikontrol atau diawasi dan tidak terprogram sesuai tuntutan kurikulum yang diberikan oleh guru atau sekolah. Pembuat media mendistribusikan program media tersebut dimasyarakat, baik dengan cara di perjualbelikan maupun di distribusikan secara bebas dengan harapan media itu akan digunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Pemakai media dalam menggunakannya menurut kebutuhan masing-masing. Biasanya mereka menggunakannya secara perorangan. Dalam menggunakan media ini mereka tidak dituntut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu. Mereka juga tidak diharapkan untuk memberikan umpan balik kepada siapapun dan juga tidak perlu mengikuti tes atau ujian. Sehingga penggunaan media didasarkan atas inisiatif sendiri tanpa disuruh oleh pihak sekolah, medianya pun dapat diperoleh dimana saja, misalnya ditoko buku, supermarket, pameran pendidikan, dan lain-lain.
Sebagai contoh jenis penggunaan media seperti ini ialah:
1.      Penggunaan kaset pelajaran bahasa Inggris
Kita dapat menjumpai ditoko disekitar tempat tinggal kita banyak dijual kaset pelajaran bahasa Inggris yang dibuat untuk melengkapi  buku-buku pelajaran bahasa Inggris tertentu. Orang yang merasa memerlukan program tersebut dapat membelinya secara bebas. Tidak hanya siswa sekolah tetapi orang tua juga atau masyarakat umum. Menggunakannya pun secara bebas juga, artinya kaset itu dapat digunakan kapan saja, dimana saja dan untuk kepentingan apa saja semuanya tergantung kepada pemilik kaset itu sendiri. Tidak ada orang yang ikut mengaturnya. Hasil yang dicapainya pun tergantung pada orang sendiri secara perorangan. Dalam istilah media konsep ini disebut media as a tools, media yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari materi tertentu.
2.      Penggunaan siaran radio untuk pendidikan
Pada saat ini banyak siaran radio atau televisi yang bersifat pendidikan. Program-program itu disiarkan dengan maksud untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan tertentu. Misalnya siaran pelajaran bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Indonesia dan lain-lain. Penggunaan program itu kebanyakan tidak dikontrol oleh penyelenggara siaran. Program tersebut disiarkan dengan harapan didengarkan dan dimanfaatkan oleh orang. Dalam hal ini penyelenggara siaran tidak mengatur bagaimana program itu didengarkan dan dimanfaatkan. Penyelenggaraan siaran juga tidak mengevaluasi hasil penggunaan program tersebut. Artinya penyelenggara siaran tidak menilai sampai seberapa jauh pesan yang telah disampaikan kepada pendengar itu dapat diterima oleh pendengar dan apa pengaruhnya terhadap kemampuan keterampilan dan sikap pendengar. Penggunaan media ini bersifat terbuka, siapapun dapat menggunakannya selain siswa juga yang lainnya.
H.    Penggunaan Media Secara Terprogram
Penggunaan media secara terprogram adalah bahwa media tersebut digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Bila media itu berupa media pembelajaran, sasaran didik (audience) diorganisasikan dengan baik hingga mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan dan mengikuti pola belajar mengajar tertentu.
Biasanya siswa diatur dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pemimpin kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media, tujuan pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu. Kemudian mereka dapat belajar dari media tersebut secara berkelompok atau secara perorangan.
Anggota kelompok diharapkan dapat berinteraksi baik dalam diskusi maupun dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah, memperdalam pemahaman atau penyelesaian tugas-tugas tertentu. Hasil belajar mereka dievaluasi secara teratur. Untuk keperluan evaluasi ini pembuat program media perlu menyediakan alat evaluasi tersebut. Pelaksanaan evaluasi diatur oleh para tutor menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan oleh pembuat program.[5]
Berikut ini beberapa contoh penggunaan media secara terprogram:
1.      Penggunaan radio di SLTP terbuka
Penggunaan radio sebagai media pembelajaran dilaksanakan diluar kelas, sesuai dengan karakteristik SLTP terbuka yaitu sebagian besar belajar menggunakan bahan berupa modul, belajar dimana saja saat mereka bekerja atau bermain. Tatap muka porsinya hanya sedikit yaitu pada saat disekolah induk dan ditempat kegiatan belajar (TKB). Modul-modul yang diberikan kepada mereka bersifat modul integrated yaiu menggaabungkan antara bahan cetak dengan media berupa kaset, siaran radio, sound slide, video dan lain-lain. Begitu halnya pada saat siswa menggunakan siaran radio pendidikan, mereka mendengar dan menyimak siaran radio pendidikan disesuaikan dengan bahan cetaknya, yang disertai dengan penugasan dan evaluasi belajar, dengan demikian jelas bahwa penggunaan media siaran radio tersebut terprogram yang disesuaikan dengan tujuan dan kurikulum.
2.      Penggunaan E-Learning dibeberapa sekolah di Indonesia
E-learning adalah sistem pembelajaraan yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran. Sebagian besar berasumsi bahwa elektronik yang dimaksud disini lebih diarahkan pada penggunaaan teknologi komputer dan internet. Melalui komputer, siswa dapat belajar secara individual baik secara terprogram maupun tidak terprogram. Secara tidak terprogram siswa dapat mengakses berbagai bahan belajar dan informasi di internet menggunakan fasilitas di internet seperti mesin pencari data (search engggine). Secara bebas siswa dapat mencari bahan dan informasi sesuai dengan minat masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Sebagian besar komputer juga sering dimanfaatkan untuk hiburan seperti bermain games, namun demikian hal tersebut tidak dapat dihindari sebab penggunaan media elektronik terutama internet bebas digunakan.
Internet juga dapat digunakan secara terprogram, salah satunya dengan program e-learning. Pada program ini sekolah atau pihak penyelenggara menyediakan sebuah situs atau web e-learning yang menyediakan bahan belajar secara lengkap baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Kegiatan siswa dalam mengakses bahan belajar melalui e-learning dapat dideteksi apa yang mereka pelajari, bagaimana progresnya, bagaimana kemajuan belajarnya, berapa skor hasil belajarnya dan lain-lain. Di Indonesia pada umumnya masih bersifat blended e-learning, yaitu e-learning bukan alat pembelajaran utama melainkan sebagai bahan dan alat pelengkap dari pembelajaran konvensional. Pembelajaran dengan kontrol guru dikelas masih tetap dominan, siswa belum secara totalitas menggunakan internet sebagai sistem pembelajarannya. Internet baru berfungsi sebagai suplemen dan belum sebagai komplemen atau pengganti PBM konvensional.
I.       Variasi Penggunaan Media
Dilihat dari variasi penggunaanya, media dapat digunakan baik secara perorangan, kelompok atau siswa dalam jumlah yang sangat banyak (massal).
1.      Media dapat digunakaan secara perorangan
Media dapat digunakan oleh perorangan saja atau istilahnya individual learning, banyak media yang memang dirancang untuk digunakan secara perorangan. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaan yang jelas (manual book) sehingga orang dapat menggunakannya secara mandiri. Artinya orang itu tidak bertanya kepada orang lain tentang bagaimana cara menggunakannya, alat apa yang diperlukan, dan bagaimana mengetahui bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Buku petunjuk itu biasanya mengandung keterangan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, urutan cara mempelajarinya, komponen-komponen media itu, alat yang diperlukan untuk menggunakannya dan alat evaluasi yang biasanya terdiri dari soal tes. Bila dalam suatu ruangan ada beberapa orang yang belajar menggunakan media secara perorangan sebaiknya masing-masing menempati tempat khusus (karel) sehingga tidak saling mengganggu. Karel ialah meja belajar yang disekat-sekat menjadi bagian kecil yang hanya cukup untuk duduk satu orang saja. Tiap karel dilengkapi dengan perlengkapan media seperti tape recorder, proyektor film bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
2.      Media dapat digunakan secara berkelompok
Pembelajaran dapat berlangsung dengan jumlah siswa yang cukup banyak (big group) atau bersifat kelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok kecil dengan anggota 2 sampai 8 orang. Atau berupa kelompok besar yang beranggotakan 9 sampai dengan 40 orang. Media yang dirancang untuk digunakan secara berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petunjuk ini biasanya ditujukan kepada pemimpin kelompok tutor atau guru. Keuntungan belajar menggunakan media secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat melakukan diskusi tentang bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapat dilakukan baik sebelum maupun sesudah mereka menggunakan media itu.
Media yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
·         Suara yang disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok dapat mendengarkannya.
·         Gambar atau tulisan dalam media tersebut harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anggota kelompok itu.
·         Perlu alat penyaju yang dapat memperkeras suara (amplifer) dan membesarkan gambar (proyektor).
3.      Media yang digunakan secara massal
Orang yang jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan ribuan dapat menggunakan media tersebut secara bersama-sama. Media yang dirancang seperti ini biasanya disiarkan melalui pemancar, seperti radio, televisi, atau digunakan dalam ruang yang besar seperti film 35 mm. Untuk memudahkan orang yang belajar dengan menggunakan media seperti ini biasanya kepada para peserta diberikan bahan tercetak sebelumnya. Bahan tercetak tersebut setidaknya harus memuat tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan sumber lain yang dapat dipelajari untuk memperdalam pemahaman. Bahan cetakan ini diberikan jauh sebelum saat penggunaan media dilakukan. Dengan demikian para peserta dapat menyiapkan diri dalam mengikuti program media tersebut.
Media yang digunakan secara massal diantaranya televisi edukasi yang disingkat “TVe” yang diluncurkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi (PUSTEKKOM) Depdiknas. TV dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan siaran yang bernuansa pendidikan dan pembelajaran, sehingga program-program yang diluncurkan setara dengan pengetahuan, keterampilan serta pendidikan tentang nilai-nilai yang positif. Media ini bersifat massal karena disiarkan keseluruh Indonesia seperti halnya televisi-televisi swasta yang  lainnya. Pada jam-jam tertentu peserta didik dapat mempelajari berbagai materi pelajaran seperti: Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan lain-lain

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Teknik (dalam bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna.
Media adalah teknologi pembawa pesan yang yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Scramm: 1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi. Media berasal dari bahsa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerimaan pesan (a receiver).
Ada beberapa fungsi media pembelajaran, diantaranya: Sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran, sebagai pengarah dalam pembelajaran, sebagai permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa, meningkatkan hasil dan proses pembelajaran, mengurangi terjadinya verbalisme, mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
Adapun prinsip-prinsipnya adalah: Efektivitas, relevansi, efisiensi, dapat digunakan, kontekstual. Adapun ciri-cirinya diantaranya adalah: Fiksatif, manipulatif, distributif.
Dan macam-macam teknik penggunaaan media pembelajaran yaitu:
1.      Penggunaan media berdasarkan tempat; seperti penggunaan media dikelas dan penggunaan media diluar kelas.
2.      Penggunaan media tidak terprogram; seperti penggunaan kaset pelajaran bahasa Inggris dan penggunaan siaran radio untuk pendidikan.
3.      Penggunaan media secara terprogram; seperti penggunaan radio di SLTP terbuka dan penggunaan e-learning dibeberapa sekolah di Indonesia.
4.      Variasi penggunaan media; seperti media dapat digunakan secara perorangan, media dapat digunakan secara berkelompok, dan media yang digunakan secara massal.

B.     SARAN
Seorang guru diharapkan dapat menggunakan teknik media pembelajaran dengan baik dan benar agar dapat mempermudah guru tersebut dalam proses belajar mengajar dan peserta didikpun dapat  tertarik dengan teknik dan media pembelajaran yang digunakan olehg pendidik sehingga dapat membuat peserta didik menjadi semangat dalam belajar.


DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2012. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
Sahron. E. smaldino, Deborah L.lowther, James D.Russell. 2011. Teknologi Pembelajaran
            dan Media Untuk Belajar. Kencana Prenadamedia Group.
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada.                                        



[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Prenada, Cet. 7), hlm. 163.

[2] Ibid, hlm. 162
[3] Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 169
[4] Sharon. E.smaldino, Deborah, L. lowther, James D. Russell, Op. Cit. Hlm. 166
[5] Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2013), hlm. 181