BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teknik adalah
penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini
diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk
mendesain objek atau proses yang berguna. Sedangkan Media adalah pengantar
pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media merupakan wahana
penyalur informasi belajar artau penyalur pesan.
Sebagai seorang
guru pasti pernah mengalami kesulitan dalam menjelaskan suatu materi pelajaran
kepada siswanya. Hal ini karena perbedaan daya tangkap peserta didik yang berbeda
satu dengan yang lainnya. Sehingga terkadang membuat guru mengalami kesulitan
dalam menyampaikan materi. Kadang terselip dibenak seorang guru mengenai
beberapa cara yang mungkin bisa mengatasi kesulitan tersebut. Namun pada saat
cara tersebut digali lagi, maka akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah
cara yang di ambil sudah merupakan cara yang paling efektif atau belum.
Menjadi seorang guru kita harus inovatif,
karena banyak pendidik yang tidak dapat menggunakan atau menerapkan teknik dan
media pembelajaran dengan baik. Seorang
guru seharusnya dapat menggunakan media-media yang ada pada saat ini dalam
proses pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan
dan memudahkan siswa-siswi mencerna pelajaran dengan baik, sehingga siswa pun menjadi
bisa lebih tertarik lagi saat belajar dengan menggunakan media dan
teknik-teknik yang diberikan secara langsung oleh pendidik.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian teknik?
2.
Apa
pengertian media pembelajaran?
3.
Apa
fungsi media pembelajaran?
4.
Apa
saja ciri-ciri media pembelajaran?
5.
Apa
saja prinsip-prinsip media pembelajaran?
6.
Bagaimana
penggunaan media pembelajaran berdasarkan tempat?
7.
Bagaimana
penggunaan media pembelajaran secara
terprogram?
8.
Bagaimana
penggunaan media pembelajaran tidak terprogram?
9.
Apa
saja variasi penggunaan media pembelajaran?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian dari teknik.
2. Untuk mengetahui apa pengertian dari media
pembelajaran.
3.
Untuk
mengetahui fungsi media pembelajaran.
4. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri media
pembelajaran.
5.
Untuk
mengetahui apa saja prinsip-prinsip media pembelajaran.
6.
Untuk
mengetahui penggunaan media berdasarkan tempat.
7.
Untuk
mengetahui penggunaan media secara terprogram.
8.
Untuk
mengetahui penggunaan media tidak terprogram.
9.
Untuk
mengetahui variasi penggunaan media.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teknik
Teknik (dalam
bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah
penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini
diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk
mendesain objek atau proses yang berguna.
B.
Pengertian Media Pembelajaran
Media adalah
teknologi pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Scramm:
1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi. Media
berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara
harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan
penerimaan pesan (a receiver). Heinich mencontohkan media ini seperti film,
televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer dan instruktur.
Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai media pembelajaran jika
membawa pesan-pesan (messagges) dalam rangka mencapai tujun pembelajaran. Dalam
hal ini terlihat adanya hubungan antara media dengan pesan dan metode.1
Rossi dan
Breidle (1966:3) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan
bahan yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi,
buku, koran, majalah dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam radio dan
televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media
pembelajaran.[1]
C.
Fungsi Media Pembelajaran
Media
pembelajaran memiliki fungsi yang sangat strategis dalam pembelajaran.
Seringkali terjadi banyaknya siswa yang tidak atau kurang memahami materi
pembelajaran yang disampaikan guru atau pembentukan kompetensi yang diberikan
kepada siswa dikarenakan ketiadaan atau kurang optimalnya pemberdayaan media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ada beberapa
fungsi media pembelajaran, diantaranya:[2]
1.
Sebagai
alat bantu dalam proses pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah,
memperjelas, mempercepat penyampai pesan atau materi pelajaran kepada para
siswa, sehingga inti dari materi pelajaran secara utuh dapat disampaikan pada
para siswa.
2.
Sebagai
komponen dari sub sistem pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang mana didalamnya memiliki
sub-sub komponen diantaranya adalah komponen pembelajaran.
3.
Sebagai
pengarah dalam pembelajaran
Salah satu fungsi dari media pembelajaran adalah sebagai pengarah
pesan atau materi apa yang akan disampaikan, atau kompetensi apa yang akan
dikembangkan untuk dimiliki siswa.
4.
Sebagai
permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa
Media pembelajaran dapat membangkitkan perhatian dan motivasi siswa
dalam belajar, karena media pembelajaran dapat mengakomodasi semua kecakapan
siswa dalam belajar.
5.
Meningkatkan
hasil dan proses pembelajaran
Secara kualita dan kuantitas media pembelajaran sangat memberikan
konstribusi terhadap hasil maupun proses pembelajaran.
6.
Mengurangi
terjadinya verbalisme
Dalam pembelajaran sering terjadi siswa mengalami verbalisme karena
apa yang dijelaskan oleh guru lebih bersifat abstrak. Dengan demikian media
pembelajaran dapat berfungsi sebagai alat yang efektif dalam memperjelas pesan
yang disampaikan.
7. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan
daya indra
Sering terjadi dalam pembelajaran menjelaskan objek pembelajaran
yang sifatnya sangat luas, besar atau sempit, kecil atau bahaya, sehingga
memerlukan alat bantu untuk memperjelas, mendekatkan pada objek yang dimaksud.
D.
Prinsip Media Pembelajaran
Dalam
menentukan maupun memiliki media pembelajaran, seorang guru harus
mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai acuan dalam mengoptimalkan pembelajaran.
Prinsip-prinsip
tersebut diantaranya adalah:
1.
Efektivitas
Pemilihan media pembelajaran harus berdasarkan pada ketepatgunaan
(efektivitas) dalam pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran atau
pembentukan kompetensi, guru harus berusaha agar media pembelajaran yang
diperlukan untuk membentuk kompetensi secara optimal dapat digunakan dalam pembelajaran.
2.
Relevansi
Kesesuaian media pembelajaran yang digunakan dengan tujuan
karakteristik materi pembelajaran, potensi dan perkembangan siswa dengan waktu
yang tersedia.
3.
Efisiensi
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran harus benar-benar memperhatikan bahwa media
tersebut murah atau hemat biaya, tetapi dapat menyampaikan inti pesan yang
dimaksud, persiapan dan penggunaannya relatif memerlukan waktu yang singkat,
kemudian hanya memerlukan sedikit tenaga.
4.
Dapat
digunakan
Media pembelajaran yang dipilih harus benar-benar digunakan atau
diterapkan dalam pembelajaran, sehingga dapat menambah pemahaman siswa dan
meningkatkan kualitas pembelajaran.
5.
Kontekstual
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran harus mengedepankan
aspek lingkungan sosial budaya siswa. Alngkah baiknya jika mempertimbangkan
aspek pengembangan pada pembelajaran life skills.[3]
E.
Ciri-ciri Media Pembelajaran
Menurut Gerlach
dan Ely (1971) ada tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media
digunakan dan apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak
mampu melakukannya.[4]
1.
Ciri
Fiksatif
Ciri
ini mengembangkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan
merekomendasikan, merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Ciri ini amat
penting bagi guru karena kejadian atau objek yang telah direkam dengan format
media yang ada dapat digunakan setiap saat bahkan dapat ditransfer kedalam
format lainnya. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali dapat dibandingkan dan
disusun kembali untuk keperluan kegiatan pembelajaran.
2.
Ciri
Manipulatif
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki
manipulatif. Kejadian yang memakan waktu yang lama dapat disajikan kepada siswa
dalam waktu sekejab dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian lebih karena apabila
terjadi kesalahan dalam peraturan kembali urutan kejadian atau pemotongan
bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran, sehingga dapat
merubah sikap siswa ke arah yang tidak di inginkan.
3.
Ciri
Distributif
Ciri ini memungkinkan suatu objek atau kejadian transportasikan
melalui ruangan dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada
sejumlah siswa besar dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai
kejadian itu.
F.
Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
Pembelajaran
adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru dengan
menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun diluar
kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak selalu identik
dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namun proses belajar
tanpa kehadiran guru pun dan lebih mengandalkan media termasuk dalam kegiatan
pembelajaran. Misalnya, e-learning, pembelajaran individual dengan CD interaktif,
video interaktif dan lain-lain.
Berdasarkan
tempat penggunaanya, terdapat beberapa teknik penggunaan media pembelajaran,
yaitu:
1.
Penggunaan
media dikelas
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapai nya
tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam
situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat
tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan
tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan
tersebut.
2.
Penggunaan
media diluar kelas
Seperti yang telah disinggung diatas, terdapat media yang
penggunaannya diluar situasi kelas. Dalam hal ini media tidak secara langsung
dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru
atau melalui pegontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran
diluar situasi kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan
media tidak terprogram dan penggunaan media secara terprogram.
G.
Penggunaan Media Tidak Terprogram
Penggunaan
media dapat terjadi dimasyarakat luas. Hal ini ada kaitannya dengan keberadaan
media massa yang ada dimasyarakat. Misalnya televisi, radio, penggunaan film
melalui CD/DVD ROM. Penggunaan media ini bersifat bebas yaitu bahwa media itu
digunakan tanpa dikontrol atau diawasi dan tidak terprogram sesuai tuntutan
kurikulum yang diberikan oleh guru atau sekolah. Pembuat media mendistribusikan
program media tersebut dimasyarakat, baik dengan cara di perjualbelikan maupun
di distribusikan secara bebas dengan harapan media itu akan digunakan orang dan
cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Pemakai media dalam
menggunakannya menurut kebutuhan masing-masing. Biasanya mereka menggunakannya
secara perorangan. Dalam menggunakan media ini mereka tidak dituntut untuk
mencapai tingkat pemahaman tertentu. Mereka juga tidak diharapkan untuk
memberikan umpan balik kepada siapapun dan juga tidak perlu mengikuti tes atau
ujian. Sehingga penggunaan media didasarkan atas inisiatif sendiri tanpa
disuruh oleh pihak sekolah, medianya pun dapat diperoleh dimana saja, misalnya
ditoko buku, supermarket, pameran pendidikan, dan lain-lain.
Sebagai contoh
jenis penggunaan media seperti ini ialah:
1.
Penggunaan
kaset pelajaran bahasa Inggris
Kita dapat menjumpai ditoko disekitar tempat tinggal kita banyak
dijual kaset pelajaran bahasa Inggris yang dibuat untuk melengkapi buku-buku pelajaran bahasa Inggris tertentu.
Orang yang merasa memerlukan program tersebut dapat membelinya secara bebas.
Tidak hanya siswa sekolah tetapi orang tua juga atau masyarakat umum.
Menggunakannya pun secara bebas juga, artinya kaset itu dapat digunakan kapan
saja, dimana saja dan untuk kepentingan apa saja semuanya tergantung kepada
pemilik kaset itu sendiri. Tidak ada orang yang ikut mengaturnya. Hasil yang
dicapainya pun tergantung pada orang sendiri secara perorangan. Dalam istilah
media konsep ini disebut media as a tools,
media yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari materi tertentu.
2.
Penggunaan
siaran radio untuk pendidikan
Pada saat ini banyak siaran radio atau televisi yang bersifat
pendidikan. Program-program itu disiarkan dengan maksud untuk menyampaikan
pesan-pesan pendidikan tertentu. Misalnya siaran pelajaran bahasa Inggris,
Matematika, Bahasa Indonesia dan lain-lain. Penggunaan program itu kebanyakan
tidak dikontrol oleh penyelenggara siaran. Program tersebut disiarkan dengan
harapan didengarkan dan dimanfaatkan oleh orang. Dalam hal ini penyelenggara
siaran tidak mengatur bagaimana program itu didengarkan dan dimanfaatkan.
Penyelenggaraan siaran juga tidak mengevaluasi hasil penggunaan program
tersebut. Artinya penyelenggara siaran tidak menilai sampai seberapa jauh pesan
yang telah disampaikan kepada pendengar itu dapat diterima oleh pendengar dan
apa pengaruhnya terhadap kemampuan keterampilan dan sikap pendengar. Penggunaan
media ini bersifat terbuka, siapapun dapat menggunakannya selain siswa juga
yang lainnya.
H.
Penggunaan Media Secara Terprogram
Penggunaan
media secara terprogram adalah bahwa media tersebut digunakan dalam suatu
rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu
disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Bila media itu
berupa media pembelajaran, sasaran didik (audience) diorganisasikan dengan baik
hingga mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan dan
mengikuti pola belajar mengajar tertentu.
Biasanya siswa
diatur dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pemimpin
kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media, tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu.
Kemudian mereka dapat belajar dari media tersebut secara berkelompok atau
secara perorangan.
Anggota
kelompok diharapkan dapat berinteraksi baik dalam diskusi maupun dalam
bekerjasama untuk memecahkan masalah, memperdalam pemahaman atau penyelesaian
tugas-tugas tertentu. Hasil belajar mereka dievaluasi secara teratur. Untuk
keperluan evaluasi ini pembuat program media perlu menyediakan alat evaluasi
tersebut. Pelaksanaan evaluasi diatur oleh para tutor menggunakan kunci jawaban
yang telah disediakan oleh pembuat program.[5]
Berikut ini
beberapa contoh penggunaan media secara terprogram:
1.
Penggunaan
radio di SLTP terbuka
Penggunaan radio sebagai media pembelajaran dilaksanakan diluar
kelas, sesuai dengan karakteristik SLTP terbuka yaitu sebagian besar belajar
menggunakan bahan berupa modul, belajar dimana saja saat mereka bekerja atau
bermain. Tatap muka porsinya hanya sedikit yaitu pada saat disekolah induk dan
ditempat kegiatan belajar (TKB). Modul-modul yang diberikan kepada mereka
bersifat modul integrated yaiu menggaabungkan antara bahan cetak dengan media
berupa kaset, siaran radio, sound slide, video dan lain-lain. Begitu halnya
pada saat siswa menggunakan siaran radio pendidikan, mereka mendengar dan
menyimak siaran radio pendidikan disesuaikan dengan bahan cetaknya, yang
disertai dengan penugasan dan evaluasi belajar, dengan demikian jelas bahwa
penggunaan media siaran radio tersebut terprogram yang disesuaikan dengan
tujuan dan kurikulum.
2.
Penggunaan
E-Learning dibeberapa sekolah di Indonesia
E-learning adalah sistem pembelajaraan yang memanfaatkan media
elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran. Sebagian besar
berasumsi bahwa elektronik yang dimaksud disini lebih diarahkan pada
penggunaaan teknologi komputer dan internet. Melalui komputer, siswa dapat
belajar secara individual baik secara terprogram maupun tidak terprogram.
Secara tidak terprogram siswa dapat mengakses berbagai bahan belajar dan
informasi di internet menggunakan fasilitas di internet seperti mesin pencari
data (search engggine). Secara bebas siswa dapat mencari bahan dan informasi
sesuai dengan minat masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Sebagian
besar komputer juga sering dimanfaatkan untuk hiburan seperti bermain games,
namun demikian hal tersebut tidak dapat dihindari sebab penggunaan media
elektronik terutama internet bebas digunakan.
Internet juga dapat digunakan secara terprogram, salah satunya
dengan program e-learning. Pada program ini sekolah atau pihak penyelenggara
menyediakan sebuah situs atau web e-learning yang menyediakan bahan belajar
secara lengkap baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Kegiatan
siswa dalam mengakses bahan belajar melalui e-learning dapat dideteksi apa yang
mereka pelajari, bagaimana progresnya, bagaimana kemajuan belajarnya, berapa
skor hasil belajarnya dan lain-lain. Di Indonesia pada umumnya masih bersifat
blended e-learning, yaitu e-learning bukan alat pembelajaran utama melainkan
sebagai bahan dan alat pelengkap dari pembelajaran konvensional. Pembelajaran
dengan kontrol guru dikelas masih tetap dominan, siswa belum secara totalitas
menggunakan internet sebagai sistem pembelajarannya. Internet baru berfungsi
sebagai suplemen dan belum sebagai komplemen atau pengganti PBM konvensional.
I.
Variasi Penggunaan Media
Dilihat dari variasi
penggunaanya, media dapat digunakan baik secara perorangan, kelompok atau siswa
dalam jumlah yang sangat banyak (massal).
1.
Media
dapat digunakaan secara perorangan
Media dapat digunakan oleh perorangan saja atau istilahnya
individual learning, banyak media yang memang dirancang untuk digunakan secara
perorangan. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaan
yang jelas (manual book) sehingga orang dapat menggunakannya secara mandiri.
Artinya orang itu tidak bertanya kepada orang lain tentang bagaimana cara
menggunakannya, alat apa yang diperlukan, dan bagaimana mengetahui bahwa ia
telah berhasil dalam belajar. Buku petunjuk itu biasanya mengandung keterangan
tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, urutan cara
mempelajarinya, komponen-komponen media itu, alat yang diperlukan untuk
menggunakannya dan alat evaluasi yang biasanya terdiri dari soal tes. Bila
dalam suatu ruangan ada beberapa orang yang belajar menggunakan media secara
perorangan sebaiknya masing-masing menempati tempat khusus (karel) sehingga
tidak saling mengganggu. Karel ialah meja belajar yang disekat-sekat menjadi
bagian kecil yang hanya cukup untuk duduk satu orang saja. Tiap karel
dilengkapi dengan perlengkapan media seperti tape recorder, proyektor film
bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
2.
Media
dapat digunakan secara berkelompok
Pembelajaran dapat berlangsung dengan jumlah siswa yang cukup
banyak (big group) atau bersifat kelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok
kecil dengan anggota 2 sampai 8 orang. Atau berupa kelompok besar yang
beranggotakan 9 sampai dengan 40 orang. Media yang dirancang untuk digunakan
secara berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petunjuk ini biasanya
ditujukan kepada pemimpin kelompok tutor atau guru. Keuntungan belajar
menggunakan media secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat melakukan
diskusi tentang bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapat dilakukan baik
sebelum maupun sesudah mereka menggunakan media itu.
Media yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu:
·
Suara
yang disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok
dapat mendengarkannya.
·
Gambar
atau tulisan dalam media tersebut harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh
semua anggota kelompok itu.
·
Perlu
alat penyaju yang dapat memperkeras suara (amplifer) dan membesarkan gambar
(proyektor).
3.
Media
yang digunakan secara massal
Orang yang jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan ribuan dapat
menggunakan media tersebut secara bersama-sama. Media yang dirancang seperti
ini biasanya disiarkan melalui pemancar, seperti radio, televisi, atau
digunakan dalam ruang yang besar seperti film 35 mm. Untuk memudahkan orang
yang belajar dengan menggunakan media seperti ini biasanya kepada para peserta
diberikan bahan tercetak sebelumnya. Bahan tercetak tersebut setidaknya harus
memuat tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, petunjuk tindak
lanjut, dan bahan sumber lain yang dapat dipelajari untuk memperdalam
pemahaman. Bahan cetakan ini diberikan jauh sebelum saat penggunaan media
dilakukan. Dengan demikian para peserta dapat menyiapkan diri dalam mengikuti
program media tersebut.
Media yang digunakan secara massal diantaranya televisi edukasi
yang disingkat “TVe” yang diluncurkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi (PUSTEKKOM)
Depdiknas. TV dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan siaran yang bernuansa pendidikan
dan pembelajaran, sehingga program-program yang diluncurkan setara dengan
pengetahuan, keterampilan serta pendidikan tentang nilai-nilai yang positif.
Media ini bersifat massal karena disiarkan keseluruh Indonesia seperti halnya
televisi-televisi swasta yang lainnya.
Pada jam-jam tertentu peserta didik dapat mempelajari berbagai materi pelajaran
seperti: Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan lain-lain
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknik (dalam
bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah
penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini
diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk
mendesain objek atau proses yang berguna.
Media adalah
teknologi pembawa pesan yang yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
(Scramm: 1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi.
Media berasal dari bahsa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang
secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source)
dengan penerimaan pesan (a receiver).
Ada beberapa fungsi media pembelajaran, diantaranya: Sebagai alat
bantu dalam proses pembelajaran, sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran,
sebagai pengarah dalam pembelajaran, sebagai permainan atau membangkitkan
perhatian dan motivasi siswa, meningkatkan hasil dan proses pembelajaran, mengurangi
terjadinya verbalisme, mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya
indra.
Adapun prinsip-prinsipnya adalah: Efektivitas,
relevansi, efisiensi, dapat digunakan, kontekstual. Adapun ciri-cirinya
diantaranya adalah: Fiksatif, manipulatif, distributif.
Dan macam-macam teknik penggunaaan media
pembelajaran yaitu:
1.
Penggunaan
media berdasarkan tempat; seperti penggunaan media dikelas dan penggunaan media
diluar kelas.
2.
Penggunaan
media tidak terprogram; seperti penggunaan kaset pelajaran bahasa Inggris dan
penggunaan siaran radio untuk pendidikan.
3.
Penggunaan
media secara terprogram; seperti penggunaan radio di SLTP terbuka dan
penggunaan e-learning dibeberapa sekolah di Indonesia.
4.
Variasi
penggunaan media; seperti media dapat digunakan secara perorangan, media dapat
digunakan secara berkelompok, dan media yang digunakan secara massal.
B.
SARAN
Seorang guru diharapkan dapat menggunakan teknik media pembelajaran
dengan baik dan benar agar dapat mempermudah guru tersebut dalam proses belajar
mengajar dan peserta didikpun dapat tertarik dengan teknik dan media pembelajaran
yang digunakan olehg pendidik sehingga dapat membuat peserta didik menjadi
semangat dalam belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Daryanto. 2012. Media
Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Rusman. 2012. Belajar dan
Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
Sahron. E. smaldino, Deborah L.lowther, James D.Russell. 2011. Teknologi Pembelajaran
dan Media Untuk Belajar. Kencana Prenadamedia Group.
Wina Sanjaya. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada.
[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan, (Prenada, Cet. 7), hlm. 163.
[2] Ibid, hlm. 162
[3] Rusman, Belajar dan
Pembelajaran Berbasis Komputer, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 169
[4] Sharon. E.smaldino, Deborah, L. lowther, James D. Russell, Op. Cit.
Hlm. 166
[5] Daryanto, Media Pembelajaran,
(Yogyakarta: Gava Media, 2013), hlm. 181
Tidak ada komentar:
Posting Komentar