Jumat, 25 November 2016

Makalah Teknik Penggunaan Media Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Teknik adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna. Sedangkan Media adalah pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar artau penyalur pesan. 
Sebagai seorang guru pasti pernah mengalami kesulitan dalam menjelaskan suatu materi pelajaran kepada siswanya. Hal ini karena perbedaan daya tangkap peserta didik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga terkadang membuat guru mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi. Kadang terselip dibenak seorang guru mengenai beberapa cara yang mungkin bisa mengatasi kesulitan tersebut. Namun pada saat cara tersebut digali lagi, maka akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah cara yang di ambil sudah merupakan cara yang paling efektif atau belum.
  Menjadi seorang guru kita harus inovatif, karena banyak pendidik yang tidak dapat menggunakan atau menerapkan teknik dan media pembelajaran dengan baik.  Seorang guru seharusnya dapat menggunakan media-media yang ada pada saat ini dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan dan memudahkan siswa-siswi mencerna pelajaran dengan baik, sehingga siswa pun menjadi bisa lebih tertarik lagi saat belajar dengan menggunakan media dan teknik-teknik yang diberikan secara langsung oleh pendidik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian teknik?
2.      Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Apa fungsi media pembelajaran?
4.      Apa saja ciri-ciri media pembelajaran?
5.      Apa saja prinsip-prinsip media pembelajaran?
6.      Bagaimana penggunaan media pembelajaran berdasarkan tempat?
7.      Bagaimana penggunaan media  pembelajaran secara terprogram?
8.      Bagaimana penggunaan media pembelajaran tidak terprogram?
9.      Apa saja variasi penggunaan media pembelajaran?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa pengertian dari teknik.
2.      Untuk mengetahui apa pengertian dari media pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui fungsi media pembelajaran.
4.      Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri media pembelajaran.
5.      Untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip media pembelajaran.
6.      Untuk mengetahui penggunaan media berdasarkan tempat.
7.      Untuk mengetahui penggunaan media secara terprogram.
8.      Untuk mengetahui penggunaan media tidak terprogram.
9.      Untuk mengetahui variasi penggunaan media.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teknik
Teknik (dalam bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna.
B.     Pengertian Media Pembelajaran
Media adalah teknologi pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Scramm: 1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerimaan pesan (a receiver). Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (messagges) dalam rangka mencapai tujun pembelajaran. Dalam hal ini terlihat adanya hubungan antara media dengan pesan dan metode.1
Rossi dan Breidle (1966:3) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran.[1]

C.    Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki fungsi yang sangat strategis dalam pembelajaran. Seringkali terjadi banyaknya siswa yang tidak atau kurang memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru atau pembentukan kompetensi yang diberikan kepada siswa dikarenakan ketiadaan atau kurang optimalnya pemberdayaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ada beberapa fungsi media pembelajaran, diantaranya:[2]
1.      Sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah, memperjelas, mempercepat penyampai pesan atau materi pelajaran kepada para siswa, sehingga inti dari materi pelajaran secara utuh dapat disampaikan pada para siswa.
2.      Sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang mana didalamnya memiliki sub-sub komponen diantaranya adalah komponen pembelajaran.
3.      Sebagai pengarah dalam pembelajaran
Salah satu fungsi dari media pembelajaran adalah sebagai pengarah pesan atau materi apa yang akan disampaikan, atau kompetensi apa yang akan dikembangkan untuk dimiliki siswa.
4.      Sebagai permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa
Media pembelajaran dapat membangkitkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar, karena media pembelajaran dapat mengakomodasi semua kecakapan siswa dalam belajar.
5.      Meningkatkan hasil dan proses pembelajaran
Secara kualita dan kuantitas media pembelajaran sangat memberikan konstribusi terhadap hasil maupun proses pembelajaran.
6.      Mengurangi terjadinya verbalisme
Dalam pembelajaran sering terjadi siswa mengalami verbalisme karena apa yang dijelaskan oleh guru lebih bersifat abstrak. Dengan demikian media pembelajaran dapat berfungsi sebagai alat yang efektif dalam memperjelas pesan yang disampaikan.
7.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra
Sering terjadi dalam pembelajaran menjelaskan objek pembelajaran yang sifatnya sangat luas, besar atau sempit, kecil atau bahaya, sehingga memerlukan alat bantu untuk memperjelas, mendekatkan pada objek yang dimaksud.
D.    Prinsip Media Pembelajaran
Dalam menentukan maupun memiliki media pembelajaran, seorang guru harus mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai acuan dalam mengoptimalkan pembelajaran.
Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah:
1.      Efektivitas
Pemilihan media pembelajaran harus berdasarkan pada ketepatgunaan (efektivitas) dalam pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran atau pembentukan kompetensi, guru harus berusaha agar media pembelajaran yang diperlukan untuk membentuk kompetensi secara optimal dapat digunakan dalam pembelajaran.
2.      Relevansi
Kesesuaian media pembelajaran yang digunakan dengan tujuan karakteristik materi pembelajaran, potensi dan perkembangan siswa dengan waktu yang tersedia.
3.      Efisiensi
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran  harus benar-benar memperhatikan bahwa media tersebut murah atau hemat biaya, tetapi dapat menyampaikan inti pesan yang dimaksud, persiapan dan penggunaannya relatif memerlukan waktu yang singkat, kemudian hanya memerlukan sedikit tenaga.
4.      Dapat digunakan
Media pembelajaran yang dipilih harus benar-benar digunakan atau diterapkan dalam pembelajaran, sehingga dapat menambah pemahaman siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
5.      Kontekstual
Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran harus mengedepankan aspek lingkungan sosial budaya siswa. Alngkah baiknya jika mempertimbangkan aspek pengembangan pada pembelajaran life skills.[3]
E.     Ciri-ciri Media Pembelajaran
Menurut Gerlach dan Ely (1971) ada tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu melakukannya.[4]
1.      Ciri Fiksatif
Ciri ini mengembangkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan merekomendasikan, merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian atau objek yang telah direkam dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat bahkan dapat ditransfer kedalam format lainnya. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali dapat dibandingkan dan disusun kembali untuk keperluan kegiatan pembelajaran.
2.      Ciri Manipulatif
Transformasi suatu kejadian atau objek  dimungkinkan karena media memiliki manipulatif. Kejadian yang memakan waktu yang lama dapat disajikan kepada siswa dalam waktu sekejab dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian lebih karena apabila terjadi kesalahan dalam peraturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran, sehingga dapat merubah sikap siswa ke arah yang tidak di inginkan.
3.      Ciri Distributif
Ciri ini memungkinkan suatu objek atau kejadian transportasikan melalui ruangan dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah siswa besar dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
F.     Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
Pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun diluar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak selalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namun proses belajar tanpa kehadiran guru pun dan lebih mengandalkan media termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, e-learning, pembelajaran individual dengan CD interaktif, video interaktif dan lain-lain.
Berdasarkan tempat penggunaanya, terdapat beberapa teknik penggunaan media pembelajaran, yaitu:
1.      Penggunaan media dikelas
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapai nya tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut.
2.      Penggunaan media diluar kelas
Seperti yang telah disinggung diatas, terdapat media yang penggunaannya diluar situasi kelas. Dalam hal ini media tidak secara langsung dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui pegontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran diluar situasi kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak terprogram dan penggunaan media secara terprogram.
G.    Penggunaan Media Tidak Terprogram
Penggunaan media dapat terjadi dimasyarakat luas. Hal ini ada kaitannya dengan keberadaan media massa yang ada dimasyarakat. Misalnya televisi, radio, penggunaan film melalui CD/DVD ROM. Penggunaan media ini bersifat bebas yaitu bahwa media itu digunakan tanpa dikontrol atau diawasi dan tidak terprogram sesuai tuntutan kurikulum yang diberikan oleh guru atau sekolah. Pembuat media mendistribusikan program media tersebut dimasyarakat, baik dengan cara di perjualbelikan maupun di distribusikan secara bebas dengan harapan media itu akan digunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Pemakai media dalam menggunakannya menurut kebutuhan masing-masing. Biasanya mereka menggunakannya secara perorangan. Dalam menggunakan media ini mereka tidak dituntut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu. Mereka juga tidak diharapkan untuk memberikan umpan balik kepada siapapun dan juga tidak perlu mengikuti tes atau ujian. Sehingga penggunaan media didasarkan atas inisiatif sendiri tanpa disuruh oleh pihak sekolah, medianya pun dapat diperoleh dimana saja, misalnya ditoko buku, supermarket, pameran pendidikan, dan lain-lain.
Sebagai contoh jenis penggunaan media seperti ini ialah:
1.      Penggunaan kaset pelajaran bahasa Inggris
Kita dapat menjumpai ditoko disekitar tempat tinggal kita banyak dijual kaset pelajaran bahasa Inggris yang dibuat untuk melengkapi  buku-buku pelajaran bahasa Inggris tertentu. Orang yang merasa memerlukan program tersebut dapat membelinya secara bebas. Tidak hanya siswa sekolah tetapi orang tua juga atau masyarakat umum. Menggunakannya pun secara bebas juga, artinya kaset itu dapat digunakan kapan saja, dimana saja dan untuk kepentingan apa saja semuanya tergantung kepada pemilik kaset itu sendiri. Tidak ada orang yang ikut mengaturnya. Hasil yang dicapainya pun tergantung pada orang sendiri secara perorangan. Dalam istilah media konsep ini disebut media as a tools, media yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari materi tertentu.
2.      Penggunaan siaran radio untuk pendidikan
Pada saat ini banyak siaran radio atau televisi yang bersifat pendidikan. Program-program itu disiarkan dengan maksud untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan tertentu. Misalnya siaran pelajaran bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Indonesia dan lain-lain. Penggunaan program itu kebanyakan tidak dikontrol oleh penyelenggara siaran. Program tersebut disiarkan dengan harapan didengarkan dan dimanfaatkan oleh orang. Dalam hal ini penyelenggara siaran tidak mengatur bagaimana program itu didengarkan dan dimanfaatkan. Penyelenggaraan siaran juga tidak mengevaluasi hasil penggunaan program tersebut. Artinya penyelenggara siaran tidak menilai sampai seberapa jauh pesan yang telah disampaikan kepada pendengar itu dapat diterima oleh pendengar dan apa pengaruhnya terhadap kemampuan keterampilan dan sikap pendengar. Penggunaan media ini bersifat terbuka, siapapun dapat menggunakannya selain siswa juga yang lainnya.
H.    Penggunaan Media Secara Terprogram
Penggunaan media secara terprogram adalah bahwa media tersebut digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Bila media itu berupa media pembelajaran, sasaran didik (audience) diorganisasikan dengan baik hingga mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan dan mengikuti pola belajar mengajar tertentu.
Biasanya siswa diatur dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pemimpin kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media, tujuan pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu. Kemudian mereka dapat belajar dari media tersebut secara berkelompok atau secara perorangan.
Anggota kelompok diharapkan dapat berinteraksi baik dalam diskusi maupun dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah, memperdalam pemahaman atau penyelesaian tugas-tugas tertentu. Hasil belajar mereka dievaluasi secara teratur. Untuk keperluan evaluasi ini pembuat program media perlu menyediakan alat evaluasi tersebut. Pelaksanaan evaluasi diatur oleh para tutor menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan oleh pembuat program.[5]
Berikut ini beberapa contoh penggunaan media secara terprogram:
1.      Penggunaan radio di SLTP terbuka
Penggunaan radio sebagai media pembelajaran dilaksanakan diluar kelas, sesuai dengan karakteristik SLTP terbuka yaitu sebagian besar belajar menggunakan bahan berupa modul, belajar dimana saja saat mereka bekerja atau bermain. Tatap muka porsinya hanya sedikit yaitu pada saat disekolah induk dan ditempat kegiatan belajar (TKB). Modul-modul yang diberikan kepada mereka bersifat modul integrated yaiu menggaabungkan antara bahan cetak dengan media berupa kaset, siaran radio, sound slide, video dan lain-lain. Begitu halnya pada saat siswa menggunakan siaran radio pendidikan, mereka mendengar dan menyimak siaran radio pendidikan disesuaikan dengan bahan cetaknya, yang disertai dengan penugasan dan evaluasi belajar, dengan demikian jelas bahwa penggunaan media siaran radio tersebut terprogram yang disesuaikan dengan tujuan dan kurikulum.
2.      Penggunaan E-Learning dibeberapa sekolah di Indonesia
E-learning adalah sistem pembelajaraan yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran. Sebagian besar berasumsi bahwa elektronik yang dimaksud disini lebih diarahkan pada penggunaaan teknologi komputer dan internet. Melalui komputer, siswa dapat belajar secara individual baik secara terprogram maupun tidak terprogram. Secara tidak terprogram siswa dapat mengakses berbagai bahan belajar dan informasi di internet menggunakan fasilitas di internet seperti mesin pencari data (search engggine). Secara bebas siswa dapat mencari bahan dan informasi sesuai dengan minat masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Sebagian besar komputer juga sering dimanfaatkan untuk hiburan seperti bermain games, namun demikian hal tersebut tidak dapat dihindari sebab penggunaan media elektronik terutama internet bebas digunakan.
Internet juga dapat digunakan secara terprogram, salah satunya dengan program e-learning. Pada program ini sekolah atau pihak penyelenggara menyediakan sebuah situs atau web e-learning yang menyediakan bahan belajar secara lengkap baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Kegiatan siswa dalam mengakses bahan belajar melalui e-learning dapat dideteksi apa yang mereka pelajari, bagaimana progresnya, bagaimana kemajuan belajarnya, berapa skor hasil belajarnya dan lain-lain. Di Indonesia pada umumnya masih bersifat blended e-learning, yaitu e-learning bukan alat pembelajaran utama melainkan sebagai bahan dan alat pelengkap dari pembelajaran konvensional. Pembelajaran dengan kontrol guru dikelas masih tetap dominan, siswa belum secara totalitas menggunakan internet sebagai sistem pembelajarannya. Internet baru berfungsi sebagai suplemen dan belum sebagai komplemen atau pengganti PBM konvensional.
I.       Variasi Penggunaan Media
Dilihat dari variasi penggunaanya, media dapat digunakan baik secara perorangan, kelompok atau siswa dalam jumlah yang sangat banyak (massal).
1.      Media dapat digunakaan secara perorangan
Media dapat digunakan oleh perorangan saja atau istilahnya individual learning, banyak media yang memang dirancang untuk digunakan secara perorangan. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaan yang jelas (manual book) sehingga orang dapat menggunakannya secara mandiri. Artinya orang itu tidak bertanya kepada orang lain tentang bagaimana cara menggunakannya, alat apa yang diperlukan, dan bagaimana mengetahui bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Buku petunjuk itu biasanya mengandung keterangan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, urutan cara mempelajarinya, komponen-komponen media itu, alat yang diperlukan untuk menggunakannya dan alat evaluasi yang biasanya terdiri dari soal tes. Bila dalam suatu ruangan ada beberapa orang yang belajar menggunakan media secara perorangan sebaiknya masing-masing menempati tempat khusus (karel) sehingga tidak saling mengganggu. Karel ialah meja belajar yang disekat-sekat menjadi bagian kecil yang hanya cukup untuk duduk satu orang saja. Tiap karel dilengkapi dengan perlengkapan media seperti tape recorder, proyektor film bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
2.      Media dapat digunakan secara berkelompok
Pembelajaran dapat berlangsung dengan jumlah siswa yang cukup banyak (big group) atau bersifat kelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok kecil dengan anggota 2 sampai 8 orang. Atau berupa kelompok besar yang beranggotakan 9 sampai dengan 40 orang. Media yang dirancang untuk digunakan secara berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petunjuk ini biasanya ditujukan kepada pemimpin kelompok tutor atau guru. Keuntungan belajar menggunakan media secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat melakukan diskusi tentang bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapat dilakukan baik sebelum maupun sesudah mereka menggunakan media itu.
Media yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
·         Suara yang disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok dapat mendengarkannya.
·         Gambar atau tulisan dalam media tersebut harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anggota kelompok itu.
·         Perlu alat penyaju yang dapat memperkeras suara (amplifer) dan membesarkan gambar (proyektor).
3.      Media yang digunakan secara massal
Orang yang jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan ribuan dapat menggunakan media tersebut secara bersama-sama. Media yang dirancang seperti ini biasanya disiarkan melalui pemancar, seperti radio, televisi, atau digunakan dalam ruang yang besar seperti film 35 mm. Untuk memudahkan orang yang belajar dengan menggunakan media seperti ini biasanya kepada para peserta diberikan bahan tercetak sebelumnya. Bahan tercetak tersebut setidaknya harus memuat tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan sumber lain yang dapat dipelajari untuk memperdalam pemahaman. Bahan cetakan ini diberikan jauh sebelum saat penggunaan media dilakukan. Dengan demikian para peserta dapat menyiapkan diri dalam mengikuti program media tersebut.
Media yang digunakan secara massal diantaranya televisi edukasi yang disingkat “TVe” yang diluncurkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi (PUSTEKKOM) Depdiknas. TV dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan siaran yang bernuansa pendidikan dan pembelajaran, sehingga program-program yang diluncurkan setara dengan pengetahuan, keterampilan serta pendidikan tentang nilai-nilai yang positif. Media ini bersifat massal karena disiarkan keseluruh Indonesia seperti halnya televisi-televisi swasta yang  lainnya. Pada jam-jam tertentu peserta didik dapat mempelajari berbagai materi pelajaran seperti: Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan lain-lain

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Teknik (dalam bahasa melayu: kejuruteraan) atau rekayasa (bahasa inggris: engineering) adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna.
Media adalah teknologi pembawa pesan yang yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Scramm: 1997). Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran informasi. Media berasal dari bahsa latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerimaan pesan (a receiver).
Ada beberapa fungsi media pembelajaran, diantaranya: Sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran, sebagai pengarah dalam pembelajaran, sebagai permainan atau membangkitkan perhatian dan motivasi siswa, meningkatkan hasil dan proses pembelajaran, mengurangi terjadinya verbalisme, mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
Adapun prinsip-prinsipnya adalah: Efektivitas, relevansi, efisiensi, dapat digunakan, kontekstual. Adapun ciri-cirinya diantaranya adalah: Fiksatif, manipulatif, distributif.
Dan macam-macam teknik penggunaaan media pembelajaran yaitu:
1.      Penggunaan media berdasarkan tempat; seperti penggunaan media dikelas dan penggunaan media diluar kelas.
2.      Penggunaan media tidak terprogram; seperti penggunaan kaset pelajaran bahasa Inggris dan penggunaan siaran radio untuk pendidikan.
3.      Penggunaan media secara terprogram; seperti penggunaan radio di SLTP terbuka dan penggunaan e-learning dibeberapa sekolah di Indonesia.
4.      Variasi penggunaan media; seperti media dapat digunakan secara perorangan, media dapat digunakan secara berkelompok, dan media yang digunakan secara massal.

B.     SARAN
Seorang guru diharapkan dapat menggunakan teknik media pembelajaran dengan baik dan benar agar dapat mempermudah guru tersebut dalam proses belajar mengajar dan peserta didikpun dapat  tertarik dengan teknik dan media pembelajaran yang digunakan olehg pendidik sehingga dapat membuat peserta didik menjadi semangat dalam belajar.


DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2012. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
Sahron. E. smaldino, Deborah L.lowther, James D.Russell. 2011. Teknologi Pembelajaran
            dan Media Untuk Belajar. Kencana Prenadamedia Group.
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada.                                        



[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Prenada, Cet. 7), hlm. 163.

[2] Ibid, hlm. 162
[3] Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 169
[4] Sharon. E.smaldino, Deborah, L. lowther, James D. Russell, Op. Cit. Hlm. 166
[5] Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2013), hlm. 181

Tidak ada komentar:

Posting Komentar