Jumat, 16 Desember 2016

Artikel Kelima

Beberapa Solusi Pendidikan Di Indonesia

  Untuk mengatasi masalah-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan diatas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:

-     Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

-     Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Atau lebih jelas lagi dapat kita uraikan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yaitu:

1)      Meningkatkan Anggaran Pendidikan
Pemerintah bertanggung jawab untuk menanggung biaya pendidikan bagi warganya, baik untuk sekolah negeri maupun swasta.
2)      Manajemen pengelolaan pendidikan
Manajemen pendidikan yang baik harus memperhatikan profesionalisme dan kreatifitas  lembaga penyelenggara pendidikan
3)      Bebaskan sekolah dari suasana bisnis
Sekolah bukan merupakan ladang bisnis bagi pejabat Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru maupun perusahaan swasta. Tetapi sekolah merupakan tempat untuk mencerdaskan bangsa.
4)      Perbaikan kurikulum
Penyusunan kurikulum hendaknya mempertimbangkan segala potensi alam, sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana yang ada.
5)      Pendidikan agama
Pendidikan agama di sekolah bukan sebagai penyampaian dogma atau pengetahuan salah satu agama tertentu pada siswa tetapi sebagai penginternasionalisasian nilai-nilai kebaikan, kerendahan hati, cinta kasih dan sebagainya.
6)      Pendidikan yang melatih kesadaran kritis
Sikap yang kritis dan toleran, akan merangsang tumbuhnya kepekaan sosial dan rasa keadilan. Oleh karena itu diharapkan bisa mengatasi masalah sosial, budaya, politik, dan ekonomi bangsa ini.
7)      Pemberdayaan guru
Guru hendaknya lebih kreatif, inovatif, terampil, dan berani berinisiatif dalam mengembangkan model-model pengajaran secara variatif.
8)      Memperbaiki kesejahteraan guru
Guru merupakan faktor dominan dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu, upaya perbaikan kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. Sehingga guru tidak hanya dituntut untuk meningkatkan wawasan maupun mutu mengajarnya serta menghasilkan output yang baik.
9)      Perluasan dan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan
Adapun strategi yang dapat dilakukan, yaitu pemantapan prioritas pendidikan dasar sembilan tahun, pemberian beasiswa dengan sasaran yang strategis, pemberian insentif kepada guru yang bertugas di wilayah terpencil, pemantapan sistem pendidikan terpadu untuk anak yang memiliki kelainan, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menunjang pendidikan yang berkualitas.

Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang ber SDM tinggi. Berkepribadian pancasila, bermartabat dan menjadi dambaan setiap manusia. Untuk itu diperlukan pemahaman, penguasaan, kesadaran, dan semangat untuk berbuat kebaikan secara berkesinambungan. Agar dapat memberikan sentuhan untuk menuju insan terpuji sebagaimana yang diharapkan bangsa dan negara kita.   Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat
( ' . ' )

Rujukan/referensi http://www.asraraspia.web.id/2014/03/beberapa-solusi-pendidikan-di-indonesia.html

Artikel Keempat


Mutu Dan Kualitas Pendidikan Di Indonesia Di Masa Kini


Pendidikan memiliki peranan yang penting di dalam kehidupan manusia. Manusia tidak akan bisa beradaptasi dengan baik pada perubahan. Pendidikan juga memiliki tugas didalam menyiapkan pembangunan yang lebih baik. Pembangunan terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman yang terus memunculkan persoalan yang baru membuat pendidikan menjadi hal yang perlu dan penting diperlukan. Karena hal itulah maka kualitas pendidikan semakin maju. Begitu juga dengan pendidikan di Indonesia. Meskipun belum bisa disejajarkan dengan negara di Asia lainnya, namun pendidikan yang ada di Indonesia mengalami perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Tidak sedikit pula anak Indonesia berhasil meraih juara di tingkat internasional di dalam bidang pendidikan. Pemerintah mencanangkan program wajib belajar 12 tahun di mana sebelumnya mewajibkan belajar 9 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia peduli terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Namun dengan kebijakan seperti itu pada kenyataannya masih banyak warga Indonesia yang tamat SMP. Padahal saat ini untuk bekerja saja dibutuhkan minimal tamatan SMA. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah melakukan program dana BOS untuk tingkat SD dan SMP dan juga pemerintah memberikan beasiswa bagi yang tidak mampu dan juga yang berprestasi.

Sehingga bagi yang tidak mampu tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dengan beasiswa dari pemerintah. Dengan begitu pendidikan yang ada di Indonesia menjadi merata dan bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Tetapi masih juga banyak ditemui sekolah-sekolah di daerah pelosok kurang perhatian dari pemerintah. Bangunan sekolah yang tidak layak serta buku pelajarang yang kurang perlu lebih diperhatikan oleh pemerintah. Itulah salah satu faktor penghambat meningkatnya pendidikan di Indonesia, yaitu kurangnya perhatian pemerintah untuk daerah pelosok.

Description: Pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Namun masih ada beberapa daerah yang kurang perhatian pemerintah yang menghambat meningkatnya pendidikan di Indonesia.


Rujukan/referensi
http://ahmadarib.com/mutu-dan-kualitas-pendidikan-di-indonesia-di-masa-kini.html

Kamis, 15 Desember 2016

Video 6


Video 5


Video 4


Video 3


Video 2


Video 1


Gambar mengenai pendidikan saat ini








Artikel Ketiga

Kurangnya Pembinaan Terhadap Guru SMA


Berbagai media melansir dalam setiap kesempatan dan hasil penelitian serta hasil penilaian terhadap portoflio guru membuktikan bahwa pembinaan dan pengembangan kompetensi guru SMA Negeri belum berjalan dengan baik.
Pemberitaan dalam berbagai media masa dan gambaran dari hasll penelitian, yang didukung oleh hasil penilaian portofolio guru, menunjukkan bahwa program dan kegiatan pembinaan serta pengembangan kompetensi guru SMA khususnya, komponen kompetensi profesional baik di tingkat kota/kabupaten maupun secara nasional, masih sangat minim.

Media Indonesia, 1/10/2005 mencatat bahwa guru telah gagal memenuhi indikator pengembangan komponen pompetensi profesional sehingga terganjal kenaikan pangkatnya. Dari pelaksanaan penilaian portofolio guru tahun 2007, penulis sebagai salah seorang asesor wilayah Sumbar menemukan bukti yang mempriharinkan itu.

Dari 64 dokumen yang dinilai, ternyata, sebanyak 77,4% guru tidak memenuhi indikator sama sekali. Artinya, guru (i) jarang melakukan penelitian tindakan kelas (PTK),t(ii) jarang menulis karya tulis lmiah (KTI) hasil penelitian, KTI konseptual, KTI populer, dan KTI untuk seminar, (iii) jarang menulis buku dan modul/Diktat, (iv) jarang menyiapkan alat pembelajaran, (v) jarang menghasilkan teknologi tepat guna atau TTG/karya seni, dan (vi) jarang mengikuti pengembangan kurikulum. Harian Kompas, 10/10/2007 memberitakan bahwa, secara nasional, hanya sebanyak 8.000 guru yang lulus sertifikasi dari 17.000 dokumen yang dinilai tahun 2007, sedangkan kuota nasional adalah sebanyak 20.000 (3.000 dokumen didiskualifikasi).

Penelitian yang penulis lakukan tahun lalu yang dkenal, menurut Panduan Penelitian Dikti Edisi VII, sebagai penelitian Hibah Bersaing dengan biaya Proyek Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dikti Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor 230/ SP2H/DP2M/III/2007, tgl. 29 Maret 2007, membuktikan hal yang senada.

Dengan memakai dasar kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru bahwa guru harus profesional, tujuan utama penelitian adalah (i) mengidentifikasi dan mengelompokkan guru SMA N Sumbar berdasarkan pemenuhan indikator komponen kompetensi profesional guru, (ii) mengidentifikasi kemungkinan faktor penyebab gagalnya pemenuhan indikator, dan (iii) menyusun dan merekomendasikan Model Diklat.

Sasaran penelitian adalah guru SMA N Sumbar yang tersebar pada 7 kota dan 12 kabupaten. Lamanya penelitian adalah 3 tahun mulai tahun 2007. Pada tahun pertama (2007), sasasaran penelitian yang disetujui adalah wakil 13 guru bidang studi di 16 SMA N Kota Padang. Total sampel penelitian secara acak bertujuan (purposive sampling) untuk tahun pertama adalah sebanyak 182 orang. Data dijaring, setelah mendapat izin dari Diknas Provinsi Sumbar dan Diknas Kota Padang, melalui kuesioner dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 114 (63%) kuesioner yang kembali, sebanyak 68.75% guru hanya mampu membuat alat pembelajaran, 17.36% yang dapat megikuti kegiatan pengembangan kurikulum, 3.47% saja yang membuat diktat, hanya 2.8% melakukan PTK, 1.4% menulis KTI berdasarkan laporan penelitian, KTI konseptual, KTI populer, karya seni, dan sisanya 0.69% guru yang mampu menulis KTI untuk seminar, menulis buku, dan menghasilkan TTG.

Rujukan/referensi : Dr. H. Welya Roza, MPd. di http://www.bung-hatta.info

  

Artikel Kedua

Sarjana dan Intelektualitas

Pendidikan merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan sebenarnya.

Pendidikan semestinya bertanggungjawab terhadap proses pencerdasan bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian. Sebaliknya, kadang-kadang meningginya tingkat pendidikan malah berimplikasi pada makin meningkatnya ketergantungan kepada pihak-pihak lain.

Mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya sudah menjadi tujuan utama bangsa kita yang termaktub dalam pembukaan UUD 45. Upaya ini ditempuh melalui pendidikan nasional. Dalam upaya mencerdaskan bangsa pendidikan seharusnya dipandang sebagai alat perjuangan pencerahan manusia. Sebagai alat perjuangan pencerahan manusia maka minimal ada tiga aspek yang harus ada dalam sebuah proses pendidikan. Pertama, Aspek iman, yang berorientasi pada proses pembentukan keyakinan manusia akan penciptanya (spiritualitas). Kedua, Aspek kognisi, yang berorientasi pada perubahan pola pikir (intelektualitas). Ketiga, Aspek affeksi, yang berorientasi pada perubahan sikap mental dan perilaku (mentalitas).

Dengan dimilikinya minimal tiga aspek dalam wacana pendidikan kita, maka seseorang yang berpendidikan dipandang sebagai seorang yang telah mengalami peningkatan iman, ilmu dan mental. Proses ilmu adalah garis vertikal yang mengarah ke atas, proses moral adalah garis akar ke dalam jiwa, sementara proses mental adalah garis horisontal. Semakin meninggi ilmu akan semakin mendalam garis moral, serta semakin melebar garis mental. Inilah yang disebut dialektika antara ilmu, mental dan moral pada proses kepribadian seseorang.

Meningkatnya ilmu pengetahuan semestinya akan membuat yang bersangkutan semakin lapang jiwanya, semakin luas bathinnya dan semakin arif kepribadiannya. Namun ternyata tidak selalu demikian. Seseorang yang lebih tinggi kapasitas pengetahuannya belum tentu lebih bijak dan arif perilakunya. Pada kenyataannya sering kita temui seorang yang lebih tinggi kedudukannya yang notabene lebih mapan kapasitas intelektualnya, lebih tinggi strata keilmuannya menjadi lebih picik pikirannya, tidak lebih arif kebijaksanaannya dan menjadi otoriter kekuasaannya. Kita selayaknya gelisah, untuk apa kita himpun informasi dan ilmu sebanyak ini kalau ia malah meningkatkan akses kita ke kemungkinan dosa, karena yang kita ketahui itu -karena sesuatu dan lain hal- tidak bisa atau terpaksa tidak kita kerjakan.

Minimal ada dua permasalahan mendasar pendidikan kita, yaitu Pendidikan Spiritual dan Pengangguran Terdidik. Pendidikan spiritual permasalahannya adalah tidak seimbangnya antara porsi pendidikan spiritual dengan pendidikan intelektual dan mental. Akibatnya bisa kita lihat dengan semakin mengakar mendaunnya budaya korupsi, manipulasi, monopoli, oligopoli, kolusi dan segala macam kejahatan birokrasi dinegeri ini. Jika dikorelasikan dengan tingkat pendidikannya, pelaku kejahatan tersebut bukanlah orang-orang yang bodoh. Dari kualitas kejahatannya tentu pelakunya bukan orang sembarangan, pastilah orang-orang pintar, pandai dan minimal pernah mengenyam persekolahan modern.

Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua yang semakin menjadi-jadi serta kejahatan fisik maupun moral bahkan gabungan keduanya semakin merajalela, merupakan bukti lemahnya kekuatan spiritual yang dimiliki sebagian masyarakat kita. Lemahnya kekuatan spiritual ini menjadikan masyarakat kita mudah putus asa dan cenderung menghalalkan segala cara demi kepentingan materi sesaat. Mereka tidak berpandangan jauh ke depan, dimana masa depan bukan berarti hanya masa dewasa dan masa tua tetapi menyangkut pula masa kematian dan masa pasca kematian. Dan yang cukup memprihatinkan adalah pendidikan kita belum mampu merubah sikap perilaku anak didik sesuai dengan target pendidikan yaitu mempertinggi budi pekerti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pengganguran terdidik merupakan masalah berikutnya yang cukup serius. Pengangguran ibarat hantu yang sangat menakutkan bagi masyarakat kita. Tidak peduli bagi mereka yang tidak mengenyam pendidikan ataupun bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi. Masalah pengangguran selalu dikaitkan dengan masalah pendidikan. Dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin dewasa dan semakin mampu berfikir alternatif. Sehingga sangat menjadi sorotan dan ironis jika sang penganggur itu adalah sarjana (intelektual) dimana seharusnya ia sudah mampu berfikir alternatif. Pendidikan yang semula diharapkan mampu mengangkat status sosial tetapi malah menjadi beban dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tak jarang para sarjana mengalami kegamangan dalam masyarakat.

Jika dicermati lebih lanjut jumlah pengangguran semakin tahun semakin meningkat, apalagi ditengah keterpurukan ekonomi seperti saat ini. Pola ini menjadi menarik untuk dikaji, karena sarjana yang seharusnya mampu berfikir alternatif untuk menjadikan dirinya mandiri ternyata tidak demikian adanya. Ini menunjukkan sistem pendidikan kita belum mampu menjadi rahim yang melahirkan lulusan berjiwa enterpreneurship. Akibatnya mereka cenderung untuk mengandalkan lowongan pekerjaan dibandingkan dengan menciptakan lapangan kerja. Dunia pendidikan kita terjebak pada kata “How to use”, sehingga melahirkan produk sarjana konsumtif tidak kreatif. Lembaga-lembaga pendidikan akhirnya berfungsi sebagai pabrik-pabrik penghasil tenaga kerja yang terampil dan terlatih. Kondisi ini diperparah lagi dengan penerjemahan tujuan pendidikan yang menyesatkan. Penerjemahan tujuan pendidikan secara tidak sadar selalu dibawa pada aspek / orientasi lapangan kerja, memperoleh kursi dimana, gajinya berapa, fasilitasnya apa, dan sebagainya. Dengan demikian ketika produk sarjana ini dihadapkan pada realita kesempatan kerja yang sempit mereka tidak mampu untuk berfikir alternatif memanfaatkan ilmu dan sumber daya yang ada menjadi sesuatu yang produktif.

Simpul dari tulisan ini bahwa memang tidak ada jaminan bahwa berkembangnya kepribadian seseorang menjadi sarjana akan paralel dengan perkembangan kepribadian dan tingkat moralnya. Tidak ada jaminan bahwa membengkaknya jumlah sarjana berarti semakin terawat dan eksis pula nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Jadi untuk apa melakukan pengembaraan intelektual dan pergulatan pemikiran menjadi sarjana jika membuat jarak semakin jauh dengan Al-Khalik, Sang Pencipta ?. Ironisme yang memprihatinkan.
Menjawab ironisme tersebut diperlukan langkah sistematik dan konsisten dengan melakukan reorientasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang akan dikembangkan harus mampu mewadahi tiga dimensi dasar kehidupan manusia, yaitu dimensi ruhiyah (moralitas/spiritualitas/agama), dimensi fikriyah (intelektualitas) dan dimensi mental untuk dapat dimanage secara proporsional dan seimbang. Semoga dimasa yang akan datang semakin banyak dihasilkan sarjana-sarjana multidimensional, yaitu sarjana dengan kapasitas mental, moral dan intelektual.


 rujukan/referensi http://masalahpendidikandinegaraku.blogspot.co.id/

Artikel Pertama


Permasalahan pendidikan di indonesia

Saya membuat artikel ini, ingin kami semua mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang membuat pendidikan di negara ini masih buruk, dengan adanya artikel ini kita bisa mengetahui masalah,penyebab,solusin yang kita pikirkan agar menjadi panduan atau semangat kami untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan agar baik dan lebih baik dalam persaingan di dunia ini. Agar penerus bangsa menjadi orang yang jenius dan berfikir lebih dari seorang siswa, itu tujuan kami di masa datang sebagai calon pendidik kelak. 

Inilah artikelnya

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.

Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

Beberapa waktu terakhir ini pendidikan di Indonesia mendapat angin segar karena 20 % APBN dialokasikan untuk bidang pendidikan. Hal ini membawa dampak positif bagi pendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia memiliki sistem yang cukup baik akan tetapi pelaksanaan di lapangan masih jauh dari ketentuan yang berlaku. Dengan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia karena ketertinggalan didalam mutu pendidikan, Baik pendidikan formal maupun informal dan juga masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu: Rendahnya sarana fisik, Rendahnya kualitas guru, Rendahnya kesejahteraan guru, Rendahnya prestasi siswa, Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, Mahalnya biaya pendidikan.

Misalnya saja dalam penyelenggaraan ujian nasional juga belum berjalan sesuai harapan. Ujian nasional yang telah disusun sedemikian dari sekian banyak ahli  sering menemui kendala di lapangan. Banyak sekali ditemukan hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dan dilakukan oleh para oknum yang berkecimpun di dunia pendidikan. 

Banyak sekali para pendidik dengan alasan kemanusiaan membantu para anak didik mereka di ujian nasional. Padahal mereka tahu dan mengerti betul hal tersebut tidak bisa dilakukan. Mereka menganggap anak didik mereka tidak diperlakukan secara adil karena mereka mengenyam pendidikan di bangku sekolah dengan failitas yang sangat minim dan kurangnnya informasi mereka dapat tentang ujian nasional.

Pelaksanaan ujian nasional merupakan PR yang terus bertambah dari tahun ke tahun dan tak kunjung selesai. Pendidikan memang sangat sulit utamanya bagi para pendidik hal tersebut diperparah dengan disahkannya undang-undang HAM yang tidak membenarkan seorang pendidik memberikan siswanya sanksi ketika melanggar aturan melalui kontak fisik. Hal ini membuat anak didik tidak lagi menghormati dan menghargai guru-guru mereka.

Mungkin kita masih sering mendengar cerita-cerita orang tua kita dahulu betapa mereka sangat segan dengan guru-guru mereka. Berbeda dengan sekarang, para anak didik sering berlaku tidak hormat kepada guru-guru mereka dan bahkan ada yang sampai membuat guru-guru mereka menangis di dalam kelas.

Mendidik sungguh pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan dan memang sangat wajar jika pemerintah memberikan perhatian khusus di bidang pendidikan. Karena generasi muda tanpa pendidikan akan membuat negara tercinta kita ini hancur di masa yang akan datang.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

Artikel ini bisa menambah pengetahuan pembacanya, karena mengandung informasi yang berguna untuk kalangan banyak yaitu contohnya:

1. Bagi Pemerintah: Bisa dijadikan sebagai sumbangasih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,dll.
2. Bagi Guru: Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang,dll.
3. Bagi Mahasiswa: Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya, dll.

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

Dilihat dari judulnya, “Permasalahan Pendidikan di Indonesia” seolah-olah menghimbau pembacanya agar mengetahui bahwa rendahnya pendidikan di Indonesia untuk membuat para pembacanya bangkit memajukan mutu pendidikan di Indonesia. Artikel ini menceritakan data-data pendidikan yang cukup lengkap, Selain itu seharusnya gaya penulisannya lebih ditekankan pada persuasif, sehingga masyarakat lebih terhimbau lagi untuk ikut mengamati bahwa masih kurangnya mutu pendidikan di Indonesia dan mengajak pembacanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Yang terjadi pada artikel ini adalah digunakannya paragraf deskriptif untuk menggambarkan keadaan pendidikan di Indonesia, dan hanya sedikit kalimat persuasif yang kurang kuat dalam sebagian paragraf.
Solusi dari saya untuk permasalahan tersebut secara garis besar yang dapat diberikan yaitu:

solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran bukan dengan meningkatkan jam belajar yang berlebihan karena setiap pelajar memiliki kemampuan yang berbeda dan sudah banyak di penuhi pembelajaran di luar sekolah, tetapi harus juga meningkatkan alat-alat, sarana dan prasarana pendidikan, dll.


Harapan dari apa yang sudah saya baca mengenai “Permasalahan Pendidikan di Indonesia”, agar pendidikan di Indonesia semakin meningkat menjadi lebih baik. Dengan syarat perubahan di lakukan dari diri sendiri untuk pendidikan indonesia yang lebih baik lagi. Dan pemerintah tidak hanya merubah suatu sistem begitu saja tetapi harus melihat kondisi siswa/siswi yang menjalankan pendidikan itu sendiri.
Kesimpulan yang bisa kami ambil yaitu Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:

(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.


Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

Mungkin hikmah yang kami ambil dari masalah pendidikan di indonesia ini adanya Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. ^__^


rujukan/referensi http://novinurochay.blogspot.co.id/2014/12/artikel-permasalahan-pendidikan-di_27.html

Sabtu, 26 November 2016

Pemilihan Dan Penentuan Metode SBM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.[1]
Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut di pengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahkan materi pelajaran ( buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video/audio dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas ( proyektor, over head, perekam pita audio dan video, radio, TV, computer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar dan lain-lain).
Guru sebagai pemegang peranan terpenting dalam proses belajar mengajar di sekolah dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar tersebut agar bergairah sehingga tercipta lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan belajar siswa di kelas. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang di milikinya guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana cara memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran di peroleh secara optimal.
Para gurupun di tuntut agar mampu menggunakan alat-alat yang telah disediakan oleh sekolah. Sekurang-kurangnya guru dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang di harapkan. Di samping itu, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan di gunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
A. Pengertian Metode Pembelajaran ?
B. Ciri-Ciri Umum Metode Pembelajaran Yang Baik ?
C. Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran ?
D. Pemilihan dan Penentuan Metode Pembelajaran ?
E. Macam-Macam Metode Pembelajaran ?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode secara harfiah berarti ‘cara’ dalam pemakaian yang umum, metode di artikan sebagai suatu cara atau prosedur yang di pakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata ‘Pembelajaran’ sendiri berarti belajar. Jadi metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pembelajaran adalah ketrampilan memilih metode. Pemilihan metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran di peroleh secara oftimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan.[2]

B. Ciri-Ciri Umum Metode Pembelajaran yang Baik.

Setiap guru yang akan mengajar senantiasa di hadapkan pada pilihan metode. Banyak macam metode yang bias dipilih guru dalam kegiatan pembelajaran. Namun tidak semua metode bias dikategorikan sebagai metode yang baik, dan tidak pula semua metode di katakan jelek. Kebaikan suatu metode terletak pada ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Omar Muhammad Al-Toumi (dalam buku strategi pembelajaran PAI) mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran PAI yaitu:
1.  Berpadunya metode dari segi tujuan dan alat dengan jiwa dan ajaran akhlak islami yang`mulia.                                                                                                                               2.  Bersifat luwes, fleksibel dan memiliki daya sesuai dengan watak siswa dan materi                      3. Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan siswa pada`kemampuan`praktis.                                                                                                                        4. Tidak mereduksi materi bahkan sebaliknya justru mengembangkan materi                     5.  Memberikan keleluasaan pada siswa untuk menyampaikan pendapatnya                          6.  Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.[3]

C. Prinsip-Prinsip Penentuan Metode Pembelajaran

Metode mengajar yang digunakan guru dalam setiap pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan tujuan instruksional khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, gurupun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu di gunakan untuk mencapai yang satu, sementara penggunaan metode yang lain juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.[4]
Metode apapun yang di pilih dalam kegiatan belajar mengajar hendaklah memperhatikan beberapa prinsip yang mendasari urgensi metode dalam proses belajar mengajar, yakni:
1. Prinsip motivasi dan tujuan belajar, motivasi memiliki kekuatan sangat besar dalam proses pembelajaran.                                                                                                                                            2. Prinsip kematangan dan perbedaan individual, belajar memiliki masa kepekaan masing-masing dan tiap anak memiliki tempo kepekaan yang tidak sama. Kepekaan intelek anak menurut J. Piaget dalam mansyur (dalam buku psikologi perkembangan) memiliki 3 fase :
a.   Fase praoperasional, yakni usia 5 – 6 tahun/ masa Pra sekolah, fase ini belum bisa membedakan sesuatu secara konsep / abstak. Cara yang mengajarkan yang abstrak mungkin bisa di tempuh melalui doktrin, cerita, nyanyian bahkan dengan Do’a. fase perkembangan moral pada tahap ini lebih bersifat Pra moral yang belum terikat pada aturan.
b.  Fase operasi kongkrit, masa ini anak sudah mulai bisa di bawa berfikir abstrak, fase perkembangan moral tahap ini lebih bersifat konvensional, yakni taat dan patuh pada kekuasaan, benar menurut siapa yang mengatakan.
c.  Fase oprasional formal, fase ini anak sudah mulai bisa memikirkan apa yang ada di balik realitas baik melalui percobaan maupun observasi.
3. Prinsip penyediaan peluang dan pengalaman praktis, belajar dengan memperhatikan peluang sebesar-besarnya bagi partisifasi anak didik dan pengalaman langsung oleh anak jauh memiliki makna ketimbang belajar verbalistik.
4. Integrasi pemahaman dan pengalaman, penyatuan pemahaman dan pengalaman menghendaki suatu proses pembelajaran yang mampu menerapkan pengalaman nyata dalam suatu daur proses belajar. Pendekatan belajar yang mungkin dapat di lakukan adalah mengalami ( Mengerjakan, mengamati, melihat ), mengungkapkan                       ( mengungkapkan kembali dan memberi tanggapan atau kesan ), mengolah ( satu pengalaman dikaitkan dengan pengalaman lain yang mungkin mengandung makna yang serupa ), menyimpulkan ( mengembangkan atau merumuskan prinsip-prinsip berupa kesimpulan umum dari pengalaman itu ), menerapkan ( dipergunakan atau di uji dala perilaku yang sesungguhnya ).
5. Prinsip Fungsional, belajar merupakan proses pengalaman hidup yang bermanfaat bagi kehidupan berikutnya, bisa berupa nilai manfaat, teoritik atau praktis bagi kehidupan sehari-hari.
6. Prinsip Menggembirakan, karena belajar merupakan proses yang terus berlanjut tanpa berhenti seiring kebutuhan dan tuntutan yang terus berkembang, maka metode mengajar jangan sampai memberi kesan memberatkan sehingga kesadaran belajar pada anak cepat berakhir.[5]

D. Pemilihan dan Penentuan Metode Pembelajaran
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiaban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif bagi kegiatan belajar siswa di kelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode pengajaran. Guru harus mengenali karakteristik dari masing-masing metode pengajaran tersebut, karena itu seorang guru harus mengetahui kelebihan dan kelemahan dari metode-metode pengajaran itu tadi.
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode adalah :

1. Nilai strategis metode

Metode merupakan fasilitas untuk mengantarkan bahan pelajaran dalam upaya mencapai tujuan. Oleh karena itu bahan pelajaran tersebut harus di sampaikan dengan memperhatikan pemakaian metode yang sesuai dengan sifat bahan dan tujuan pengajaran supaya kondisi kelas bergairah dan kondisi anak didik kreatip. Oleh karena itu dapat di pahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar karena metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.[6]

2. Efektivitas Penggunaan Metode

Dalam menetapkan metode mengajar, metode tersebut hendaknya menjadi ‘variabel dependen’ yang dapat berubah dan berkembang sesuai kebutuhan. Karena itu efektivitas penggunaan metode dapat terjadi apabila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran sebagai persiapan tertulis.[7]

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan dan Penentuan Metode antara lain :

a. Tujuan yang hendak di capai yaitu sasaran yang di tuju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Karakteristik tujuan yang akan di capai sangat mempengaruhi penentuan metode sebab metode tunduk pada tujuan, bukan sebaliknya.
b. Materi Pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak di sampaikan oleh guru untuk bisa di pelajari dan di kuasai anak didik.
c. Peserta Didik sebagai subjek belajar yang memiliki karakteristik yang berbeda baik secara fisik, psikologis, atau biologis.
d. Situasi Kegiatan Belajar merupakan setting lingkungan pembelajaran yang dinamis.
e. Fasilitas sangatlah penting guna berjalannya proses pembelajaran yang efektif
f. Guru, harus memiliki jiwa professional. Kompetensi mengajar seorang guru di pengaruhi oleh kepribadian, performance style, kebiasaan, pengalaman mengajar juga latar pendidikan guru tersebut.[8]

E. Macam-Macam Metode Pembelajaran, diantaranya :

1. Metode Ceramah

Metode ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.
Metode ini memiliki kelebihan :
-         Guru mudah menguasai kelas
-         Mudah mengorganisasikan kelas
-         Dapat di ikuti oleh jumlah siswa banyak
-         Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
-         Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
Di samping itu metode ceramah juga memiliki kelemahan yaitu :
-         Mudah menjadi verbalisme ( pengertian kata-kata )
-         Yang visual menjadi rugi, yang auditif ( mendengar ) yang lebih besar menerimanya
-         Bila selalu di gunakan dan terlalu lama membosankan
-         Siswa menjadi pasif [9]

2. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus di jawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode Tanya jawab memiliki kelebihan yaitu :
-         Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa
-         Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir dan  ingatan
-     Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Metode Tanya jawab juga memiliki kelemahan yaitu :
-         Siswa merasa takut
-         Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat daya berfikir dan mudah di pahami siswa
-         Waktu sering banyak terbuang[10]

3. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang di hadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
Metode diskusi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Merangsang kreativitas siswa
-         Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
-         Memperluas wawasan
-         Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah
Metode diskusi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang panjang
-         Tidak dapat di pakai pada kelompok besar
-         Peserta mendapat informasi yang terbatas
-         Mungkin di kuasai oleh siswa yang suka berbicara / ingin menonjolkan diri[11]


4. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan / mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang di pelajari, baik sebenarnya maupun tiruan, yang sering di sertai dengan penjelasan lisan.
Metode demonstrasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Pelajaran menjadi lebih jelas dan konkrit
-         Siswa mudah memahami pelajaran
-         Proses pengajarannya lebih menarik
-         Merangsang siswa untuk aktif mengamati dan melakukannya sendiri
Metode demonstrasi ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Memerlukan keterampilan guru secara khusus
-         Pasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik
-         Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
-         Memerlukan waktu yang cukup panjang[12]

5. Metode Karya Wisata

Metode karya wisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat objek tertentu di luar sekolah, untuk mempelajari / menyelidiki sesuatu. Hal ini bukan rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pengetahuannya dengan melihat langsung / kenyataan.
Metode karya wisata ini melebihi kelebihan yaitu :
-         Dapat memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran
-         Membuat apa yang di pelajari lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat
-         Lebih merangsang kreativitas siswa
-         Informasi lebih luas dan actual
-         Menyegarkan tubuh dan menambah kesehatan
-         Melatih anak-anak agar kuat
Metode karya wisata  ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Sulitnya pasilitas dan biaya yang di perlukan
-         Memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang
-        Memerlukan koordinasi dengan guru bid. Study lain agar tidak terjadi timpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata
-      Unsur rekreasi lebih menjadi prioritas sedang tujuan utamanya yaitu unsure studynya menjadi terabaikan
-        Sulit mengatur siswa yang banyak[13]

6. Metode Eksperimen ( Percobaan )

Metode eksperimen ( percobaan ) adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang di pelajari.
Metode eksperimen ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Siswa lebih percaya atas suatu kebenaran / kesimpulan
-      Pembina siswa untuk membuat trobosan-trobosan baru dengan penemuan dengan hasil-hasil percobaannya
-         Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat di manfaatkan untuk kemakmuran umat manusia
Metode eksperimen ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Lebih sesuai dengan bidang-bidang sains / tekhnologi
-         Memerlukan berbagai pasilitas peralatan dan bahan yang sulit di peroleh dan mahal
-         Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
-         Tidak selalu memberikan hasil yang di harapkan[14]

7. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah social.
Metode sosiodrama ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan di dramakan
-         Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif
-         Dapat memupuk bakat siswa
-         Dapat menumbuhkan kerja sama antar pemain
-         Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
-         Dapat membina bahasa lisan siswa menjadi baik agar mudah di pahami orang lain
Metode sosiodrama ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-         Anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang kreatif
-         Banyak memakan waktu
-         Memerlukan tempat yang cukup luas
-         Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan penonton[15]

8. Metode Problem Solving ( Metode Pemecahan Masalah )

Metode Problem Solving merupakan metode mengajar sekaligus metode berfikir sebab dapat juga menggunakan metode-metode lainnya yang di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Metode Problem Solving ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Membuat pendidikan di sekolah lebih relevan dengan kehidupan khusunya denga dunia kerja
-         Dapat membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah dengan trampil
-        Merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh
Metode Problem Solving ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-        Memerlukan kemampuan dan keterampilan guru untuk menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa
-          Memerlukan waktu yang cukup lama
-         Memerlukan berbagai sumber belajar karena mengbah kebiasaan belajar siswa dari mendengar dan menerima informasi menjadi berfikir memecahkan masalah[16]

9. Metode Penugasan dan Resitasi

Metode Penugasan dan Resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Biasanya metode ini di pilih karena banyaknya bahan tidak sesuai dengan waktu yang tersedia.
Metode Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelebihan yaitu :
-         Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual / kelompok
-         Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru
-         Dapat mambina tanggung jawab dan disiplin siswa
-         Dapat mengembangkan kreativitas siswa
Metode Penugasan dan Resitasi ini mempunyai kelemahan yaitu :
-         Siswa sulit di control, apakah di kerjakan sendiri / oleh orang lain
-         Dalam tugas kelompok, tidak semua berpartisipasi
-         Tidak mudah memberikan yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
-     Sering memberikan tugas yang monoton ( tidak berpariasi ) dan menimbulkan kebosanan siswa[17]

10. Metode Latihan ( Training )

Metode Latihan ( Training ) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Metode Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelebihan yaitu :
-     Untuk memperoleh kecakapan motorik
-     Untuk memperoleh kecakapan mental
-     Untuk memperoleh kecakapan asosiasi yang di buat
Metode Latihan ( Training ) ini juga mempunyai kelemahan yaitu :
-     Menghambat bakat dan inisiatif siswa
-     Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
-     Kalau di lakukan secara berulang-ulang membosankan
-     Membentuk kebiasaan yang kaku karna bersifat otomatis
-     Dapat menimbulkan verbalisme[18]



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Banyak macam metode yang bias di pilih guru dalam kegiatan pembelajaran, namun tidak semua metode bias di katakana baik dan tidak pula semua metode di katakana jelek, kebaikan suatu metode terletak pada ketepatan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Dengan demikian salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam pembelajaran adalah keterampilam memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran di peroleh secara oftimal.

B. Saran

Di harapkan kepada semua guru agar trampil dalam memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas.

  

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Banjarmasin : Rineka Cipta 1995
Fathurrahman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Refika Aditama 2007
N.K, Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta 2008
Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar proses pendidikan bandung :kencana. 2006




[1] Djamarah, Syaiful Bahri, strategi belajar mengajar. (Jakarta:Rineka cipta.2006). hlm.56
[2] Ibid, hlm.58
[3] Omar Muhammad Al-Toumi , strategi pembelajaran PAI. (Jakarta:Rineka cipta.1983). hlm.50
[4] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching, (Jakarta : Quantum Teaching, 2005), hlm. 56
[5] Ibid, hlm. 60
[6] Sanjaya,Wina..strategi pembelajaran berorentasi standar proses pendidikan.(bandung:kencana.2006), hlm154
[7] Ibid, hlm155
[8] Winarno Surakhmad. strategi pembelajaran .(bandung:kencana.1994), hlm59
            [9] Hafni Ladjid, Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi,( Quantum Teaching, 2005), hlm.121
[10]  Ibid, hlm.122
[11] Ibid, hlm.52-53
[12] Ibid, hlm.54-55
[13] Ibid, hlm.56
[14] Ibid, hlm.57
[15] Ibid, hlm.58
[16] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Quantum Teaching, 2003), hlm.55
[17] Ibid, hlm.57
[18]  Ibid, hlm.59